Sejak senja kemarin meluluhkan aku dengan puisiSejak sajak-sajak semakin rutin mengembun
Sejak musik-musik arabik menjebol titik terdalam sepiku
Aku jamin Imaji mu kalangkabut
Bukan salah kamu karena menjauh dariku, Dik.
.
Kamu mengenal bumi, kan?
Bahkan ia pun sepertinya tak mampu menerka
Padahal ia yang begitu setia padaku
Saat ini ia takkan tahu aku dimana..
Bagaimana rupa tubuhku yang ini..
.
Jika dan hanya men-jika
Kau datang padaku esok hari
Memeras buih-buih rindu
Memecah kebisuan atmaku
.
Tapi saat kamu mencoba meraih rinduku
Aku takkan bisa memelukmu
Kamu akan keliru menjumpai
Aku tak lagi di bumi ini, Dik..
Puisi-puisi itu menenggelamkan jiwaku
Musik-musik itu membelah sukmaku
.
Saat ini aku terbaring di alam bayangan
Alam yang Tuhan ciptakan lewat puisi-puisi yang aku lahirkan
Alam yang Tuhan hidupkan dengan musik-musik yang aku bisingkan
Tanpa kamu disini..
Kamu di alam lain, bersamanya mungkin..
.
Aku pun buta dengan semua tentangmu
Entah kamu mencinta atau merana
Aku tak tahu.
Ah, itu bukan urusanku
Cukup dengan kata-kata ini aku bercinta
Biar kopiku tak lagi manis
Tapi musikku tak lagi dikurung Relativitas milik Einstein
Ia mengalir dalam bulir-bulir
(Kuningan, 5 Mei 2017)
*Swallow Biru*
*Swallow Biru*
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..