Langsung ke konten utama

Antara Lebaran, Dhuafa, dan Dua K.


☕Tulisan ini hasil refleksi bacaan kalam ilahi sang imam shalat Id di Masjid Agung Desa Kertayasa-Kuningan. Pada rakaat kedua, dengan merdunya (Naghmah Rast) beliau membacakan Qs. Luqman 33-34.
Semakin larut dalam penghayatan, akhirnya beliau terhenti oleh tangis yang sontak keluar dari hatinya. Sungguh terlihat kekhusyukan beliau.☕ .

👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇

Hari raya Idul Fitri adalah salah satu momentum kebahagiaan terbesar umat Islam seantero mayapada.
.
Sejak hilangnya sosok senja bulan ramadan, setelah kita sempurnakan bilangan ibadah puasa kita (satu bulan), Allah memerintahkan kita untuk seraya mengagungkan idul fitri dengan membasahi bibir dan hati kita oleh takbir, tahmid, dan tahlil.
.
Seperti hujan kala itu, kebahagiaan tumpah-ruah, menyapa setiap atap rumah kita. Disadari atau tidak, disamping rasa khidmat kita menutup ramadan,kebahagiaan serta-merta hadir dalam benak kita. .
Malam yang sangat indah, gema takbir bersahutan.
Malam yang sangat indah, obor-obor bertabur di jalanan.  Ya, malam Idul Fitri.
Dan ini hanya ungkapan saja. Mari kita perhatikan lebih lanjut lagi...
.

Sungguh berbahagia mereka yang benar-benar termasyghul dengan segala macam ibadah kepada Allah, mereka yang meninggalkan ramadan dengan kesedihan, kemudian mencukur tangisan2-nya dengan mengagungkan asma-asma Allah. Lantas berbahagia menyambut idul fitri yang mulia.
.
Sungguh merugi kita yang tidak benar2 khidmat, kita yang lalai dalam ibadah, kita yang menidurkan hati dan membisukan mulut untuk mengagungkan malam idul fitri. Kita hanya berbahagia saat menteri agama mengumumkan bahwa idul fitri telah tiba, saat sanak keluarga mulai mengetuk pintu rumah kita.
.
Saat kita bahagia, sementara mereka yang papa terlupa. Tak ada yang spesial bagi kehidupan mereka. Setelah sholat id, kembali berjibaku dengan teriknya sang surya.
Sungguh, ketika kita bahagia terkadang kita menjadi seorang pelupa akut. Semua hanya tentang kebahagiaan diri kita. Tidak yang lainnya.
.
Kita... Namun Ingatkah kita pada diri kita yang ada dibawah kuasa Allah?
Ingatkah kita pada nyawa kita yang bisa kapan saja Allah cabut dari jasad kita?

Ingatkah kita bahwa ketika ajal menyapa, kita gagu, kita tak bisa berbuat apa-apa, tak mampu menundanya?

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُون َ

“Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedetikpun." (Q.S An-Nahl : 61)

Ingatkah kita pada diri kita?

Tidak. Kita sering lalai mengingat diri kita yang Allah ciptakan sebaik-baiknya ciptaan. Kita hanga mengingat nafsu-nafsu duniawi kita yang setiap saat semakin merekat dengan urat2.

Kematian dan Kiamat, dua kata berawalan huruf "k" yang sering kita lupakan sementara dua2nya adalah hal yang tidak dapat kita tebak layaknya Werewolf. (ان الله عنده علم الساعة). Sungguh, seharusnya dua hal inilah yang senantiasa terngiang dalam fikiran kita mengalahkan ingatan2 kita terhadap kefanaan dunia.

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖ ۖ  وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْــئًا ؕ  اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا ؕ  وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. [QS. Luqman: Ayat 33]

Kita, ingatlah kita akan ayat-ayat Allah yang Haq! .

Sekian, Wallahu-a'laam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

Akankah?

Sebuah Puisi Kehidupan     Akankah aku selalu seperti ini? Setiapnya aku terhina, aku unjuk rasa Aku katakan pada Tuhan, “Sekejam inikah takdirMu? Sepedih inikah keadilanMu?” “O, Tuhan..” “Hendaklah kau bahagiakan hatiku. kau tumbuhkan bunga-bunga kehidupan disekitarku.. tidak seperti.ini...tidak dengan pukulan-pukulan ini.” Sampai kapan? Hingga nafas tersengal Saat ajal bukan ratapan lagi Akankah aku sadar dan bergumam, “Laa-ilaaha-illa-Allah.. Ampuni kesombonganku.. Ampuni kelancanganku seolah mengatur kuasaMu..” “Aku kembali pada perintahMu, Tuhan.. Aku pasrah, semua adalah kehendakMu.. Aku yakin, semua adalah yang terbaik.. Terima aku dalam pangkuanMu..” Akankah? Akankah? Akankah sedramatis itu.. Tuhan, tegur aku sejak sajak ini selesai kutulis.. Kumohon, jangan nanti..  

Dan Hilang..

Sebuah puisi cinta Seperti petuah orang dulu Mencintai memang tak selamanya harus memiliki Memang.. Cinta akan tetap suci meski tak dimiliki Cinta akan tetap bergulir meski air sudah berhenti mengalir Cinta pun akan tetap masyuk meski mata sudah mulai mengantuk Tetapi sesak takkan pernah terelakkan Ketika mata dipaksa menyaksikan Sosok yang dicinta syahdu dalam kebahagiaan Bersama dunianya, lalu berpelukan Mencintai dalam kegonjang-ganjingan Namun apa daya Tak banyak yang dapat dilakukan Selain menggenggam erat rasa yang sudah melahirkan kenangan Tetapi tidak untuk setiap saat dikhayalkan Biarkan ia gugur dengan sendirinya Menyelam, lalu tenggelam ditelan keremangan Dan hilang..