Langsung ke konten utama

Tentang Hidup


Temen-temen Ahli baca sembari ngopi rohimakumullah..
 
Semua hal selain Dia adalah keluwesan, alias mengandung unsur fleksibelitas atau mutaghoyyir. Termasuk hidup. Ya, hidup kita ini.
Banyak mulut2 manusia yang berkata bahwa, "hidup ini kejam, hidup ini sulit" bahkan sampai2 menyalahkan Dia, "Tuhan mah gak adil sama hidup saya, dsb.." duh, akhirnya dikabulin kan omongannya sama Allah. Hidupnya jadi susah, hidupnya jadi makin sering didzholimi. Jadilah mereka orang susah.
Allah pernah berfirman dalam hadits qudsi-Nya,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.(Muttafaqun ‘alaih)
Nah, makannya jangan suudzon sama Allah. Kurang baik apa Allah sama kita? Kurang bijak apa Allah sama kita?
Allah mah maha bijak, kalah jauh lah Mario Teguh mah. Allah bijak banget saat kita Dikasih tidur sama Allah, lebih bijak lagi saat Allah bangunkan kita di pagi hari buat wujudin mimpi2 kita. Allah kasih kehidupan buat kita.
Lah, balesannya apa? Kita mah malah suudzon sama Allah. Nganggep Allah gak adil, gara2 kita ngerasain pedihnya jadi tukang nyari2 rongsokan, tidur cuma di pelataran koran2, sementara yang lain hidup bermegah-megahan
Kadang2 juga kita yang hidupnya udah dibanjiri kemewahan malah lebih2 kufur nikmat sama Allah. Disenggol dikit rekan bisnisnya demo sama Allah, mobil vw classicnya digondol maling marah2 sama Allah, padahal masih banyak mobil2 yg lainnya.
Kalo kita nganggep hidup kita susah, hidup kita musibah, hidup kita masalah, yaudah deh jadilah kenyataan anggapan2 kita itu.
Kalo ada masalah, ya hadapi. Bukan malah nyangka gak bener sama Allah.
Intinya, luwes saja menjalani hidup kita ini. Banyak2 bersyukur sama Allah. Banyak2 memuji Allah, meskipun Allah gak butuh sama pujian kita tapi Allah seneng loh sama hambanya yang muji2 Dia terus. Alhamdulillaah.
Kalo nganggep hidup ini musik, ayo mainkan, nyanyikan. Kalo nganggepnya hidup adalah tantangan, ayo hadapi, siapa takut.
Dan buat saya pribadi, hidup ini adalah cinta, maka saya akan menikmatinya.. Ya, sebagaimana saya menikmati cinta pada lawan jenis. *eh
Tapi tetep, kebahagiaan yang hqq adal mencintai sang pencipta kehidupan, Allah Swt. dan sosok penerang kehidupan, Muhammad Saw.

*Ayi Yusri Ahmad Tirmidzi*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

Akankah?

Sebuah Puisi Kehidupan     Akankah aku selalu seperti ini? Setiapnya aku terhina, aku unjuk rasa Aku katakan pada Tuhan, “Sekejam inikah takdirMu? Sepedih inikah keadilanMu?” “O, Tuhan..” “Hendaklah kau bahagiakan hatiku. kau tumbuhkan bunga-bunga kehidupan disekitarku.. tidak seperti.ini...tidak dengan pukulan-pukulan ini.” Sampai kapan? Hingga nafas tersengal Saat ajal bukan ratapan lagi Akankah aku sadar dan bergumam, “Laa-ilaaha-illa-Allah.. Ampuni kesombonganku.. Ampuni kelancanganku seolah mengatur kuasaMu..” “Aku kembali pada perintahMu, Tuhan.. Aku pasrah, semua adalah kehendakMu.. Aku yakin, semua adalah yang terbaik.. Terima aku dalam pangkuanMu..” Akankah? Akankah? Akankah sedramatis itu.. Tuhan, tegur aku sejak sajak ini selesai kutulis.. Kumohon, jangan nanti..  

Dan Hilang..

Sebuah puisi cinta Seperti petuah orang dulu Mencintai memang tak selamanya harus memiliki Memang.. Cinta akan tetap suci meski tak dimiliki Cinta akan tetap bergulir meski air sudah berhenti mengalir Cinta pun akan tetap masyuk meski mata sudah mulai mengantuk Tetapi sesak takkan pernah terelakkan Ketika mata dipaksa menyaksikan Sosok yang dicinta syahdu dalam kebahagiaan Bersama dunianya, lalu berpelukan Mencintai dalam kegonjang-ganjingan Namun apa daya Tak banyak yang dapat dilakukan Selain menggenggam erat rasa yang sudah melahirkan kenangan Tetapi tidak untuk setiap saat dikhayalkan Biarkan ia gugur dengan sendirinya Menyelam, lalu tenggelam ditelan keremangan Dan hilang..