Tentang Membenci
Mengapa kali ini saya akan menulis tentang ini? Jawabannya sederhana sekali. Karena kebetulan kemarin saat saya tengah suntuk-suntuknya menunggu elf jurusan Cirebon-Kuningan (bukan Elf kependekan dari Everlasting Friends alias penggemar Super Junior, hihi) tepat di seberang jalan dihadapanku terpampang spanduk dari salahsatu parpol terbesar di Negeri ini di depan sebuah warteg yang bertuliskan "Mengapa Kita Harus Saling Membenci?".
Nah, dari sebab itulah saya mendapatkan inspirasi tulisan ini. Saya rasa parpol tersebut bermaksud sangat baik untuk melerai berbagai macam tindak kebencian yang kini marak terjadi di Negeri ini, ya dengan selogan seperti itu minimal masyarakat yang membaca akan bertanya kepada dirinya, "mengapa saya harus membenci?".
Kembali kita perhatikan bagaimana akhir-akhir ini sering terjadi pergulatan yang berujung pada kebencian, semua merata di segala aspek kehidupan, bahkan dalam aspek agama pun sebagai sesuatu yang dinormai suci masih saja banyak hal-hal terjadi yang akhirnya bermuara pada sikap saling membenci. Jadilah hidup ini bermakna membenci.
Nah, belajarlah saya berpikir kenapa sih seseorang bisa saling membenci? Apa alasan terkuat kita untuk membenci satu sama lain? Kedengkian macam apa hingga berhasil menghasut diri sendiri untuk menjaga jarak dari satu orang atau kelompok tertentu? Atau pernahkah kita membenci seseorang sebab ia membenci sesuatu? Bukankah itu bagian dari kebencian itu sendiri?
Banyak hal yang membuat seseorang akhirnya memutuskan untuk saling membenci. Biasanya semua berawal dari satu hal, yakni PERBEDAAN.
Berbeda menjadi momok yang menakutkan bagi kita yang sensitifan. Berbeda sedikit soal cara pikir, jadi masalah. Berbeda keyakinan, jadi prahara. Dan berbagai macam perbedaan lainnya yang secara spontan membuat kita yang sensitif expert (bukan sensodyne) alias sensitif tingkat tinggi menjadi panas hati, iri dengki, akhirnya membenci dan memusuhi.
Nah, disinilah dibutuhkan sikap luwes kita. Jangan menjadi manusia yang sensitif dalam hal begituan. Luwes saja. Enjoy your life.
Terlebih, negeri yang kita tinggali ini adalah negeri yang terdiri dari berbagai macam perbedaan alias "Bhinneka Tunggal Ika". Lantas apakah kebencian kita kepada manusia lain termasuk pelanggaran kebhinekaan? Jika iya, harusnya sel penjara penuh, semua akan dibui. Buktinya tidak. Entah ini juga mungkin sebuah pendangkalan moral pengamalan kebhinekaan dalam artian boleh jadi "Bhinneka Tunggal Ika" sudah tinggal kenangan, hanya selogan bermajaz yang hilang dari pemaknaan.
Mohon maaf, saya senang menulis sesuka hati. Pembahasan Bhinneka disini contohnya, tidak termasuk konsep awal penulisan artikel ini tetapi tak apa lah, mudah-mudahan ada tali merahnya. Heuheu.
Adakah tujuan dari memupuk kebencian pada seseorang?
Untuk apa kita membenci, saling menghujat dan menjatuhkan, padahal tujuan hidup kita tidaklah sesimple "membenci", tujuan hidup kita adalah wushul kepada-Nya alias sampai atau makrifat kepada-Nya, lalu kembali pada-Nya dengan membawa keridhoan-Nya.
Membenci adalah sikap seseorang yang tidak mempunya tujuan hidup. Buta. Kita masih buta jika kebencian masih menyelimuti kita. Bagaimana kita akan melihat indahnya bumi ini jika mata kita selalu dibutakan kebencian.
Sebenarnya kebencian adalah sahabatnya ke-egosentris-an. Mengapa kita membenci? Karena kita merasa kita adalah segalanya, kita menuntut yang lain harus sefaham dengan kita, jika tidak maka mereka musuh kita. Inilah penyakitnya, ananiyah.
Jika hal ini terus terjadi, maka lingkaran kebencian tidak akan pernah putus. Disadari atau tidak, ketika kita mulai membenci seseorang maka kita tengah mengundang orang lain untuk membenci kita. Kebencian akan terus menjalar. Kebencian akan dibalas dengan kebencian.
Tetapi, Jika perlahan saja kita mencoba menghilangkan sifat ke-aku-an dalam diri kita, lambat laun kebencian akan sirna, dan hijab di mata kita akan terbuka, dunia akan kita lihat sebagai keagungan tuhan yang tiada tanding, kita akan sadar pada tujuan hakikat hidup kita.
اول واجب على الانسان، معرفة الإله باستقان
Tujuan hidup kita adalah wushul, makrifat kepada Tuhan dengan keyakinan yang jazim, qolbu sesuai dengan tingkah laku kita, dan faham betul akan dalil-dalil ketuhanan.
Apakah kita akan wushul dengan cara membenci makhluk Tuhan selain kita? Tidak. Menuju-Nya tidak sesederhana dan sehina itu.
Terkadang kita lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang diatur, bukan sebagai seorang pengatur. Bagaimanapun kita tidak dapat mengatur siapapun harus benar-benar sefaham dengan kita, entah dalam pola pikir, keyakinan ataupun yang lainnya. Kita hanya diperintah untuk menashihati, lalu menegur. Tidak lebih.
Satu-satunya hal yang perlu dilakukan untuk mengakhiri kebencian ini menular, adalah dengan membalas kebencian orang lain dengan kebaikan. kita tidak harus kembali membenci.
Mari pupuk persatuan dan kesatuan yang begitu bermakna di Negeri tercinta ini. Kita semua saudara. Seperti kata GusDur, "jika kita tidak bersaudara dalam keyakinan (agama), maka kita beraaudara dalam kemanusiaan".
Apalagi bagi kita yang beragama islam, Allah berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat." – (QS.Al-Hujurat {49}:10)
Dewasa saya, kita harus menumbuhkan kedamaian diri kita dengan tidak membenci sesama, dan kita harus menyelimuti kedamaian diri kita dengan makrifat kepada Allah swt.
Karena bagaimanapun, setiap orang memiliki pandangan dan sikap yang berbeda. Mulailah menghargai perbedaan sikap dan pandangan, maka kita akan mengerti bahwa tidak ada alasan untuk saling membenci.
Sebagai penegasan, Nabi Saw. pernah bersabda,
"Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari," (HR Bukhari [6065] dan Muslim [2559]).
Sekian, Wallaahu a'lam.
Kuningan, 6 Juli 2017.
bagus mas tulisannya, nginspirasi banget, Lanjutkan *tak ~ ter*.
BalasHapusAlhamdulillah, Kang. Belajar dan terus belajar. Semoga istiqomah. *tak-terr, tereleng*
Hapus