Salam hangat, Para pecandu kopi...
Tulisan dibawah ini adalah uraian singkat dari tugas membuat outline karya tulis yang ditugaskan oleh yang mulia tutor saya dalam kegiatan Smart Learning IAIN-SNJ 2017.
Oke kopier's, pertama mengapa saya memberi judul tulisan ini dengan Masa Orientasi Kehidupan, jawabannya adalah karena waktu yang diberikan pak tutor bagi saya (khususnya) hanya 15 menit saja untuk sekadar membuat outline karya tulis.
So' apalah daya thinking engineering saya yang masih kaki lima dipaksa membuat kerangka tulisan dengan waktu sesingkat itu, hasilnya 7 menit berlalu dengan tanpa menulis satu kata pun.
Akhirnya, saya teringat kenyelenehannya Gus Dur yang sering berkata, "Gitu aja kok repot?" ya, disinilah keabstrakan tulisan ini dimulai bahwa mengapa saya harus pusing-pusing mencari bahan tulisan padahal apa yang sedang saya alami pun bisa dijadikan tulisan, Taaruf dan Smart Learning. Gitu-aja-kok-repot.
Seketika itu saya mendapat ide untuk menulis tentang "Taaruf" dengan judul "Taaruf dan Jembatan Kesuksesan", tetapi setelah beberapa detik difikirkan saya rasa judulnya terlalu aneh karena saya harus berhadapan dengan kata success yang masih klise dalam otak saya. Yowis, akhirnya saya ganti dengan "Masa Orientasi Kehidupan".
Jadi begini, saya qiyaskan tulisan ini dengan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) yang barusan saya alami. Menurut wikipedia Ospek merupakan kegiatan untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru.
Ya, sahabat Swallow rohimakumullah..
Sebelum kita (manusia) diperkenalkan dengan jutaan warna-warni dunia seperti dunia kampus, sejatinya kita telah dikenalkan terlebih dahulu mengenai rasa oleh orang tua kita saat kita masih seorang bayi ingusan.
Ketika kita lahir ke dunia, kita asing dengan dunia dan terpenjara dalam benak kita sendiri. Dunia kita terbatas. Tetapi Tuhan menghapuskan keterbatasan itu dari sosok ibu. Seorang bayi yang baru lahir akan nyaman ketika berada dalam pelukan ibundanya, inilah ikatan jiwa antara ibu dan bayinya yang benar-benar tak terdefinisikan.
Kita (anak kecil) sangat berkeinginan mengenal lingkungan kita, ini sudah panggilan alam sepertinya. Kita memulainya dari meraba, melihat, mendengar lalu membanding2kan satu hal dengan hal lainnya. Tak syak, kita memulai mengenal segalanya dari lingkungan sekitar kita lewat kesabaran manusia yang paling dekat dengan kita, Ibu. Manusia yang paling berperan mengenalkan dunia kepada kita.
Inilah yang saya sebut Masa Orientasi Kehidupan, dimana kita (manusia) dilahirkan ke bumi lalu diperkenalkan oleh sosok ibu akan dasar2 dunia di sekitar kita. Kemudian kita dibesarkannya dan sekarang menjadi seperti ini yang sudah mengenal berbagai bentuk bumi yang diperdebatkan-hehe-, sudah mengetahui banyak akan warna-warni kehidupan, dan sebagainya.
Orientasi kehidupan pertama kita telah kita lewati bersama seorang ibu. Dan kini, saatnya kita mengenal dunia dengan washilah ilmu-ilmu. Sejatinya sampai ajal menjemput pun kita masih sedang mengenal kehidupan, belajar memahami berjejernya rasa-rasa kehidupan, belajar mencintai kesakitan, dan lain sebagainya.
Kuningan, 1 September 2017.
@SweetHome
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..