Langsung ke konten utama

Aku Ingin Kau Hargai

Sebuah Kisah Nyata

 

Ada sebuah cerita yang cukup membuatku mengerti akan sebuah penghargaan, meskipun sedikit membuatku getir gelagapan karena sebuah tatapan yang membungkam semua kebisuan.

Begini ceritanya...




Aku masih ingat tanggalnya, Minggu, 17 September 2017, baru kemarin. Hihi. Tepatnya selepas sholat isya, sekitar jam 19.30 aku pergi keluar dari tempat aku menghabiskan waktu di Cirebon bersama satu temanku menuju sebuah tempat untuk mengayomi aksi demo isi perut yang entah dimana, yang penting nyaman dan murah-meriah  tentunya. 

Nah, tak banyak memilih tempat akhirnya kami memutuskan untuk nongkrong di sebuah warung angkringan malam di pinggiran jalan kota Cirebon. Aneka makanan yang siap dibakar disajikan diatas sebuah gerobak. Kami memilih satu persatu menu dengan hati-hati (takut kemahalan) untuk dibakar terlebih dahulu oleh si abang pedagangnya. Lalu kami menggelar tikar, dan duduk santai bersama angin malam menunguu datangnya pesanan kami. 

Sambil menunggu makanan kami ngobrol ngalor-ngidul menyangkut aspek ketuhanan, agak seram memang dua pemuda yang baru saja masuk dunia kampus berbicara tentang Tuhan. Mudah-mudahan tidak ada ucapan yang membuat kami dicap sebagai "Murtadani", dua orang yang murtad. Naudzubulillah.. Amin. Aku tidak akan membahas mengenai perbincangan hangat kami, karena maksud tulisan ini bukan hal tersebut. 

Setelah sekitar 10 menit berlalu, akhirnya datang juga pesanan kami. Aroma khas jajakan jalanan menyetop pergulatan kami, lalu kami santap bersama-sama. Dan, tak sampai 5 menit habislah ia dimangsa kami. Hihi. 

Setelah makan, kami lanjutkan obrolan tadi. Sangat hangat dan menguras rasional. Lagi-lagi bukan hal ini yang akan aku bahas disini. 

Waktu di handphoneku (tak punya jam tangan) menunjukan pukul 21.00. Sekitar 10 meter dari tempat kami hadirlah dua orang pengamen jalanan yang membuat kami agak geli, hihi. Mereka berdua adalah dua orang hermafrodit alias banci atau waria. Waria adalah akronim dari pria dan wanita, dalam KBBI berarti pria yang bersifat dan berpenampilan seperti wanita. 

Sedikit deskripsi bagaimana penampilan mereka berdua malam itu. Mereka berpenampilan modis menurut mereka, dengan sepatu berkaki cukup tinggi, berjalan lenggak-lenggok; maksud mereka mungkin menari, menghampiri satu persatu perkumpulan manusia yang ada di angkringan itu. Mereka bergoyang sambil bernyanyi diiringi musik yang keluar dari sound-system yang digantungkan talinya di pundak salah satu dari mereka.

Disamping pemandangan cukup horror itu, temanku segera menyadari terhadap sesuatu yang mungkin akan terjadi. Dia bangkit dan langsung menuju gerobak si abang penjual hendak membayar menu yang kami lahap habis. Aku masih saja duduk santai sambil merasa sedikit was-was takut didekati mereka. 

Benar saja, mereka sepertinya hendak menuju ke arahku. Sontak aku membalikan badan dan segera memakai sepatu, dan prosesnya cukup lama. Sementara mereka berdua telah berada tepat dibelakangku. Aku lirik sedikit, mereka masih dengan gaya yang sama, bernyanyi sambil menari ala penyanyi dangdut papan atas sambil sedikit mengulurkan tangannya sebagai tanda ingin diberi uang jasa atas bakat bernyanyinya tersebut. 

Mungkin merasa agak gusar, lama menunggu aku yang tak kunjung memberi, salah satu dari mereka akhirnya menyentuh pundakku. Aku menengok, lalu ia berkata, "Mas, bagi recehnya, sih?!" dan tanpa bertutur kata apapun aku mengangkat tangan sebagai tanda maaf tidak dapat memberi. Lalu aku bangun dan nyelonong pergi menjauhi mereka berdua; arah parkiran. 

Tak aku sangka, salah satu dari mereka mengikutiku sambil memanggil-manggil dengan nada agak tinggi, "Mas! Mas!". Aku pura-pura saja tidak mendengar. Sampai disamping motor, tepat pula dia pun sudah berada di hadapanku dan lumer bilang, "Setan lu! Dasar Setan! Apa susahnya bilang Maaf, Mbak?! Setan lu! Kalo gak mau ngasih bilang Maaf kek!."

aku hanya terdiam sembari menahan rasa takut dia beneran marah dan bertindak kriminal, karena mindset aku tentang waria adalah galak dan sadis. Wajar kan saat itu aku gelagapan. 

"lain kali kalo gak mau ngasih, bilang maaf ya, setan!" dia melanjutkan sambil memukul pundakku cukup keras dan langsung berlenggak-lenggok lagi menjauhi posisiku.
Kalian harus tahu, bagaimana malunya aku saat itu. Dimarahi seorang waria dihadapan banyak manusia-manusia yang memang memerhatikanku ketika sedang dihabisi oleh perkataannya. Sungguh horror sangat. 

-------------------------------------------------------------------------

Lalu apa esensi tulisan ini? Mungkin tidak ada bagi pembaca yang berbudi, namun bagiku peristiwa tersebut sangatlah menegur budi. 

Dalam perjalanan pulang aku menghardik diriku sendiri, "dasar setan!". Aku memang pantas disebut setan sebab perlakuan tidak adilku kepada mereka. 

Setiap manusia ingin dihargai,karena manusia adalah mahluk yang sempurna dan seharusnya memiliki harkat dan martabat. Begitupun mereka , sekalipun mungkin banyak diantara kita (contoh; saya) yang mengkerdilkan posisi mereka sebagai waria, tetapi sejatinya mereka adalah manusia pada umumnya, sama seperti kita. 

"Jangan berharap dihargai apabila tidak mau menghargai orang lain!" inilah yang menjadi landasan saya pantas disebut setan. Setan tidak Tuhan hargai karena dia tidak menghargai-Nya, dia selalu melempar omongan-omongan yang tidak pantas terhadap Tuhan. 

Dalam kasus ini, mereka hanya ingin dihargai, mereka hanya meminta kata "maaf" dariku, hanya maaf! Tidak lebih. Aku benar-benar telah melanggar kode etik kemanusiaan. 

Uh, menjadi orang yang selalu sempurna memang tidak mungkin tetapi menjadi manusia yang berharga untuk orang lain adalah hal yang sangat mungkin. Tapi apa yang aku perbuat kepada mereka? Salah besar, Sahabat. Salah. 

Maka, marilah sejak kini kita belajar menghargai, menghargai apa saja. Terutama menghargai manusia sebagai manusia tanpa harus memandang agama, suku, ras, pendidikan, harta, dan juga kedudukan. 

Belajar mengaplikasikan teori sopan santun dalam kehidupan sosial, tidak mudah? Ya! Tetapi harus terus kita biasakan. 


Terimakasih, Guruku. Waria Angkringan Tuparev.

Komentar

Posting Komentar

Silakan komentar secara bijak dan indah..

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

Akankah?

Sebuah Puisi Kehidupan     Akankah aku selalu seperti ini? Setiapnya aku terhina, aku unjuk rasa Aku katakan pada Tuhan, “Sekejam inikah takdirMu? Sepedih inikah keadilanMu?” “O, Tuhan..” “Hendaklah kau bahagiakan hatiku. kau tumbuhkan bunga-bunga kehidupan disekitarku.. tidak seperti.ini...tidak dengan pukulan-pukulan ini.” Sampai kapan? Hingga nafas tersengal Saat ajal bukan ratapan lagi Akankah aku sadar dan bergumam, “Laa-ilaaha-illa-Allah.. Ampuni kesombonganku.. Ampuni kelancanganku seolah mengatur kuasaMu..” “Aku kembali pada perintahMu, Tuhan.. Aku pasrah, semua adalah kehendakMu.. Aku yakin, semua adalah yang terbaik.. Terima aku dalam pangkuanMu..” Akankah? Akankah? Akankah sedramatis itu.. Tuhan, tegur aku sejak sajak ini selesai kutulis.. Kumohon, jangan nanti..  

Dan Hilang..

Sebuah puisi cinta Seperti petuah orang dulu Mencintai memang tak selamanya harus memiliki Memang.. Cinta akan tetap suci meski tak dimiliki Cinta akan tetap bergulir meski air sudah berhenti mengalir Cinta pun akan tetap masyuk meski mata sudah mulai mengantuk Tetapi sesak takkan pernah terelakkan Ketika mata dipaksa menyaksikan Sosok yang dicinta syahdu dalam kebahagiaan Bersama dunianya, lalu berpelukan Mencintai dalam kegonjang-ganjingan Namun apa daya Tak banyak yang dapat dilakukan Selain menggenggam erat rasa yang sudah melahirkan kenangan Tetapi tidak untuk setiap saat dikhayalkan Biarkan ia gugur dengan sendirinya Menyelam, lalu tenggelam ditelan keremangan Dan hilang..