Langsung ke konten utama

Rohingya Yang Menjelma Cinta

Sebuah Puisi Kehidupan

Rohingya Yang Menjelma Cinta

Disini manusia berdasi tanpa kerah
Setiap disinggung soal iba menengadah
Disini manusia bersepatu tanpa kaki
Setiap ditontonkan prahara sosial enggan berlari
Hanya menggemborkan tanpa berkiprah
Mengorek akar masalah tanpa melangkah

Apa kabar kalian disana?
Manusia yang gagah memikul akidah
Kata media tubuh dan jiwa kalian berdarah
Di tanah sendiri hak-hak kalian dijajah

Apa kabar kalian disana?
Sudahkah kalian memanggil kami disini?
Saudara seakidah dari ibu pertiwi
Kami hanya menyimak penderitaan saudara
Kami hanya ramai di dunia maya
Kami hanya sibuk dengan mencela
Kami hanya pandai membuat viral tagar #SaveRohingya
Tanpa sedikitpun tindakan memperdulikan manusia
Wahai saudara kami penggagas kesenjangan di Rohingya..

Apa kabar kalian disana?
Masihkah kehausan darah menghantui adinda
Setelah ratusan jiwa menganga di hadapan dada
Apakah harus aku menyebutmu penjahat?
Atas kekejaman zionis kalian plagiat
Uh, aku tak seberani itu, Saudara..
Kelakuan kalian itu sejatinya menyindir aku punya jiwa
Tak pernah tergugah mendengar jiwa-jiwa musnah
Tak sadar akan kejahatan kemanusiaan mewabah

Saudaraku, Penguasa negeri tanah emas..
Sampai kapan kalian akan nikmat bernafas
Menghirup bangkai manusia yang membekas
Meneguk ratusan hak yang kalian retas
Apakah tanahmu akan menjadi neraka dunia kedua setelah Kamboja?
Uh, aku tak kuasa menyebutmu demikian, Saudara..
Genosidamu terhadap mereka sejatinya menegur aku punya raga
Tak banyak bersyukur atas kedamaian yang aku rasa
Lupa pada Tuhan yang setiap saat berbahasa
Memanggil ragaku agar bersujud tak kuasa
Mengigil akan dosa-dosa..

Rohingya, kau washilahku menjadi manusia berjiwa cinta..
Entah jiwa yang mana yang hendak menuju-Nya..
Semoga saja seluruh raga nan jiwaku kan sirna untuk-Nya..


Cirebon, 4 September 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

Akankah?

Sebuah Puisi Kehidupan     Akankah aku selalu seperti ini? Setiapnya aku terhina, aku unjuk rasa Aku katakan pada Tuhan, “Sekejam inikah takdirMu? Sepedih inikah keadilanMu?” “O, Tuhan..” “Hendaklah kau bahagiakan hatiku. kau tumbuhkan bunga-bunga kehidupan disekitarku.. tidak seperti.ini...tidak dengan pukulan-pukulan ini.” Sampai kapan? Hingga nafas tersengal Saat ajal bukan ratapan lagi Akankah aku sadar dan bergumam, “Laa-ilaaha-illa-Allah.. Ampuni kesombonganku.. Ampuni kelancanganku seolah mengatur kuasaMu..” “Aku kembali pada perintahMu, Tuhan.. Aku pasrah, semua adalah kehendakMu.. Aku yakin, semua adalah yang terbaik.. Terima aku dalam pangkuanMu..” Akankah? Akankah? Akankah sedramatis itu.. Tuhan, tegur aku sejak sajak ini selesai kutulis.. Kumohon, jangan nanti..  

Dan Hilang..

Sebuah puisi cinta Seperti petuah orang dulu Mencintai memang tak selamanya harus memiliki Memang.. Cinta akan tetap suci meski tak dimiliki Cinta akan tetap bergulir meski air sudah berhenti mengalir Cinta pun akan tetap masyuk meski mata sudah mulai mengantuk Tetapi sesak takkan pernah terelakkan Ketika mata dipaksa menyaksikan Sosok yang dicinta syahdu dalam kebahagiaan Bersama dunianya, lalu berpelukan Mencintai dalam kegonjang-ganjingan Namun apa daya Tak banyak yang dapat dilakukan Selain menggenggam erat rasa yang sudah melahirkan kenangan Tetapi tidak untuk setiap saat dikhayalkan Biarkan ia gugur dengan sendirinya Menyelam, lalu tenggelam ditelan keremangan Dan hilang..