Langsung ke konten utama

Bahasa Sebagai Alat Memelihara Rasa dan Kerja Sama

Bahasa Sebagai Alat Memelihara Rasa dan Kerja Sama

 

Manusia tidak mungkin dapat lepas dari bahasa. Terbukti dari penggunaannya untuk percakapan sehari-hari, tentu ada peran bahasa yang membuat satu sama lain dapat berkomunikasi, saling menyampaikan maksud hati. Tak hanya dalam bentuk lisan, tentu saja bahasa juga digunakan dalam bentuk tulisan. 

Hiruk-pikuk kehidupan, termasuk kehidupan di panggung politik, tidak lepas dari peran bahasa yang cukup pelik. Ada yang menggunakan bahasa untuk menusuk perasaan, mengutarakan kebencian, menyakiti, bahkan mengutuk. Orang lupa pada fungsi hakiki bahasa yaitu untuk mengembangkan akal budi, alat integrasi, dan memelihara kerja sama. 

Ketika akal budi tidak dikembangkan, kerja sama tidak dipelihara dengan bahasa, maka hasilnya? Mungkin kegentingan di pentas politik, hiruk-pikuk di ranah keagamaan, dan peristiwa-peristiwa di sekitar kita akan menjelaskan hasil tersebut. Kursi dijatuh-jatuhkan, meja bergelimpangan, batu-batu beterbangan. Sungguh, ini adalah sebuah degradasi moral di ranah Ibu pertiwi. 

Oleh karena itu, kita harus sepenuhnya sadar akan fungsi hakiki bahasa. Menurut Sudaryanto, doktor linguistik Universitas Gadjah Mada, ada dua fungsi bahasa yang ia sebut sebagai khas dan hakiki yaitu mengembangkan akal budi dan memelihara kerja sama.
Fungsi yang khas berarti fungsi yang hanya bisa dijalankan oleh bahasa, dan tidak mungkin oleh yang lain. Akal budi itu hubungannya dengan kesadaran, bagaimana agar orang menjadi sadar, dan yang disadari itu mestinya nilai-nilai. Mengembangkan nilai-nilai, akal budi, itulah yang hanya bisa lewat bahasa verbal ini, artinya dalam bentuk lisan atau tulisan. 

Kemudian, bahasa juga sebagai alat untuk memlihara kerja sama. Apakah hanya dengan bahasa untuk bekerja sama? Kalau hanya untuk kerja sama tanpa untuk memelihara, itu bisa saja tanpa bahasa. Meskipun kita sedang marah-marah pun masih bisa kerja sama, kok. Tetapi, untuk memelihara kerja sama tentunya harus memakai bahasa. 

Contohnya, setiap ada konflik, entah itu taraf lokal, nasional seperti yang terjadi di DPR, atau bahkan kelas dunia, mau tak mau harus kembali menggunakan bahasa verbal, dialog, atau musyawarah. Ketika ada konflik Israel dengan Palestina, mereka harus berdialog, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar terbaik. Baru-baru ini, ketika ada masalah sosial dan kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, para pemimpin-pemimpin negara dunia berhamburan melakukan pendektan persuasif, mencoba berdialog dan berdiskusi demi menyelesaikan permasalahan tersebut. Dan mereka semua menggunakan bahasa verbal tadi.

Seperti juga ketika Pak Jokowi sering melakukan pendekatan kepada masyarakat ketika kunjungan-kunjungannya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang renyah dan mudah bagi masyarakat yang tak jarang melahirkan gelak tawa dari para tamu yang hadir. Itu adalah bagian dari dialog yang Pak Jokowi lakukan demi mengembangkan akal budi, dan memelihara kerja sama antara pemerintah dan rakyat. 

Karena itulah, hanya dengan menyadari fungsi hakiki dan setia padanya, bahasa menjadi kreatif. Jika tidak, pasti bahasa akan pasif. Coba saja ketika kita marah-marahan, mengumpat-umpat, nantinya bahasa tidak kreatif. Kata-katanya hanya itu-itu saja. 

Lain dari itu, jika untuk mengembangkan akal budi, dan memelihara kerja sama, akhirnya bahasa akan menjadi sangat bervariatif. Seperti di dalam dunia ilmiah, seni, budaya, kepengarangan, bahkan juga di dalam dunia bisnis yang sungguh-sungguh. Inilah, yang layak disadari oleh kita semua. 

Sumber ide :
https://www.google.co.id/amp/amp.kompas.com/nasional/read/2014/11/23/16233291/Revolusi.Mental.Berawal.dari.Bahas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

Akankah?

Sebuah Puisi Kehidupan     Akankah aku selalu seperti ini? Setiapnya aku terhina, aku unjuk rasa Aku katakan pada Tuhan, “Sekejam inikah takdirMu? Sepedih inikah keadilanMu?” “O, Tuhan..” “Hendaklah kau bahagiakan hatiku. kau tumbuhkan bunga-bunga kehidupan disekitarku.. tidak seperti.ini...tidak dengan pukulan-pukulan ini.” Sampai kapan? Hingga nafas tersengal Saat ajal bukan ratapan lagi Akankah aku sadar dan bergumam, “Laa-ilaaha-illa-Allah.. Ampuni kesombonganku.. Ampuni kelancanganku seolah mengatur kuasaMu..” “Aku kembali pada perintahMu, Tuhan.. Aku pasrah, semua adalah kehendakMu.. Aku yakin, semua adalah yang terbaik.. Terima aku dalam pangkuanMu..” Akankah? Akankah? Akankah sedramatis itu.. Tuhan, tegur aku sejak sajak ini selesai kutulis.. Kumohon, jangan nanti..  

Dan Hilang..

Sebuah puisi cinta Seperti petuah orang dulu Mencintai memang tak selamanya harus memiliki Memang.. Cinta akan tetap suci meski tak dimiliki Cinta akan tetap bergulir meski air sudah berhenti mengalir Cinta pun akan tetap masyuk meski mata sudah mulai mengantuk Tetapi sesak takkan pernah terelakkan Ketika mata dipaksa menyaksikan Sosok yang dicinta syahdu dalam kebahagiaan Bersama dunianya, lalu berpelukan Mencintai dalam kegonjang-ganjingan Namun apa daya Tak banyak yang dapat dilakukan Selain menggenggam erat rasa yang sudah melahirkan kenangan Tetapi tidak untuk setiap saat dikhayalkan Biarkan ia gugur dengan sendirinya Menyelam, lalu tenggelam ditelan keremangan Dan hilang..