Langsung ke konten utama

Belajar Mandiri dengan Menulis

Belajar Mandiri Dengan Menulis  

Belajar Mandiri Dengan Menulis


Hidup mandiri adalah keinginan setiap manusia dewasa. Bisa menghidupi diri sendiri tanpa membebankan kedua orangtua, lebih-lebih lagi bisa membantu perekonomian keluarga. 

Kaula muda, manusia yang baru saja tumbuh menjadi manusia dewasa. Semangat hidupnya pasti sedang menggebu disamping perasaan kepada lawan jenis pun pasti sudah mulai melaju.
Aku sedang merasakan hal itu, hidup penuh akan keingintahuan tentang hal-hal yang meribu, termasuk perasaan cinta terhadap wanita yang selalu memburu. 

Aku tuangkan semangat mudaku ini dengan aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, makalah-makalah perkuliahan diselesaikan, mengikuti seminar-seminar kebangsaan dan kewirausahaan, meskipun memang masih ada pencitraan-pencitraan alias keinginan yang belok dari jalur yang diharuskan. 

Untuk apa? 

Aku bertekad untuk bisa hidup mandiri, makan dengan uang hasil jeripayah diri, bisa ngopi tiap hari tanpa bingung membagi ekonomi. Inilah tujuan saya menebar wajah dan nama saya di banyak organisasi, berharap esok nanti diri ini banyak dicari untuk sekadar mengisi materi, berdiskusi atau hanya membacakan sebuah puisi, tentunya karya pribadi. 

Aku pernah merintis usaha kecil-kecilan, akhirnya gagal tanpa penghasilan. Lalu aku simpulkan, ternyata aku belum berkemampuan berwirausaha.

Aku mencoba lagi hal lain, yakni menulis. Sampai detik ini aku terus belajar mengembangkan pikiran-pikiranku untuk dituliskan, apapun. Aku pernah berhenti menulis karena aku anggap tulisanku sangat miris, sajak-sajakku tak mengiris, opini-opiniku tak ada yang menggubris.
Kini aku mengerti bahwa hidup itu adalah merintis, tidak sekonyong-konyong manis tanpa pernah menangis, tidak tiba-tiba mengais tanpa keringat pernah mengemis. Maka aku tetap melanjutkan hobiku menulis, tidak peduli aku dianggap ceriwis asalkan esok hari bakal eksis. 

Mari, mandiri dengan menulis. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

Akankah?

Sebuah Puisi Kehidupan     Akankah aku selalu seperti ini? Setiapnya aku terhina, aku unjuk rasa Aku katakan pada Tuhan, “Sekejam inikah takdirMu? Sepedih inikah keadilanMu?” “O, Tuhan..” “Hendaklah kau bahagiakan hatiku. kau tumbuhkan bunga-bunga kehidupan disekitarku.. tidak seperti.ini...tidak dengan pukulan-pukulan ini.” Sampai kapan? Hingga nafas tersengal Saat ajal bukan ratapan lagi Akankah aku sadar dan bergumam, “Laa-ilaaha-illa-Allah.. Ampuni kesombonganku.. Ampuni kelancanganku seolah mengatur kuasaMu..” “Aku kembali pada perintahMu, Tuhan.. Aku pasrah, semua adalah kehendakMu.. Aku yakin, semua adalah yang terbaik.. Terima aku dalam pangkuanMu..” Akankah? Akankah? Akankah sedramatis itu.. Tuhan, tegur aku sejak sajak ini selesai kutulis.. Kumohon, jangan nanti..  

Dan Hilang..

Sebuah puisi cinta Seperti petuah orang dulu Mencintai memang tak selamanya harus memiliki Memang.. Cinta akan tetap suci meski tak dimiliki Cinta akan tetap bergulir meski air sudah berhenti mengalir Cinta pun akan tetap masyuk meski mata sudah mulai mengantuk Tetapi sesak takkan pernah terelakkan Ketika mata dipaksa menyaksikan Sosok yang dicinta syahdu dalam kebahagiaan Bersama dunianya, lalu berpelukan Mencintai dalam kegonjang-ganjingan Namun apa daya Tak banyak yang dapat dilakukan Selain menggenggam erat rasa yang sudah melahirkan kenangan Tetapi tidak untuk setiap saat dikhayalkan Biarkan ia gugur dengan sendirinya Menyelam, lalu tenggelam ditelan keremangan Dan hilang..