Belajar Mandiri Dengan Menulis
Hidup mandiri adalah keinginan setiap manusia dewasa. Bisa menghidupi diri sendiri tanpa membebankan kedua orangtua, lebih-lebih lagi bisa membantu perekonomian keluarga.
Kaula muda, manusia yang baru saja tumbuh menjadi manusia dewasa. Semangat hidupnya pasti sedang menggebu disamping perasaan kepada lawan jenis pun pasti sudah mulai melaju.
Aku sedang merasakan hal itu, hidup penuh akan keingintahuan tentang hal-hal yang meribu, termasuk perasaan cinta terhadap wanita yang selalu memburu.
Aku tuangkan semangat mudaku ini dengan aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, makalah-makalah perkuliahan diselesaikan, mengikuti seminar-seminar kebangsaan dan kewirausahaan, meskipun memang masih ada pencitraan-pencitraan alias keinginan yang belok dari jalur yang diharuskan.
Untuk apa?
Aku bertekad untuk bisa hidup mandiri, makan dengan uang hasil jeripayah diri, bisa ngopi tiap hari tanpa bingung membagi ekonomi. Inilah tujuan saya menebar wajah dan nama saya di banyak organisasi, berharap esok nanti diri ini banyak dicari untuk sekadar mengisi materi, berdiskusi atau hanya membacakan sebuah puisi, tentunya karya pribadi.
Aku pernah merintis usaha kecil-kecilan, akhirnya gagal tanpa penghasilan. Lalu aku simpulkan, ternyata aku belum berkemampuan berwirausaha.
Aku mencoba lagi hal lain, yakni menulis. Sampai detik ini aku terus belajar mengembangkan pikiran-pikiranku untuk dituliskan, apapun. Aku pernah berhenti menulis karena aku anggap tulisanku sangat miris, sajak-sajakku tak mengiris, opini-opiniku tak ada yang menggubris.
Kini aku mengerti bahwa hidup itu adalah merintis, tidak sekonyong-konyong manis tanpa pernah menangis, tidak tiba-tiba mengais tanpa keringat pernah mengemis. Maka aku tetap melanjutkan hobiku menulis, tidak peduli aku dianggap ceriwis asalkan esok hari bakal eksis.
Mari, mandiri dengan menulis.

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..