Langsung ke konten utama

Indah Dalam Sampah

Indah Dalam Sampah 


Seseorang bertopi itu tersenyum ramah mendistorsikan tubuh kumalnya yang sepetinya lama tak basah, ia lalu melanjutkan kegiatan yang mungkin sangat wajib untuknya; memungut sampah, setelah sapa bibirku ia balas sangat indah. Sesungguhnya, hal kecil seperti senyum saja dapat menimbulkan suasana yang ramah jiga diniatkan lillah. 

Sore itu, aku mendapatinya sendiri berjibaku dengan sampah-sampah yang terbaring dalam ring-ring yang termangu disekitar kampus. Ia begitu memberikan stimulan yang besar kepadaku dengan langkah tegapnya sehingga aku memerhatikan arah-arah pergerakannya.

Ia adalah seorang anak hebat yang sepertinya terlahir dari kehidupan yang amat berat. Karung berukuran besar dijinjingnya, isinya dipastikan adalah sampah-sampah plastik yang sedari tadi ia punguti dengan jeli. Aku terus membuntutinya kemana lagi kakinya diarahkan karena kebetulan tak ada lagi jadwal perkuliahan sore itu. Sepertinya ia sadar ada sesuatu yang memerhatikannya seksama, ia menemukanku dan akhirnya tatapan kami kembali bertemu. Aku tersenyum, ia pun membalas kembali dengan senyum dan mata yang aku temukan didalamnya tersimpan berjuta kehangatan.
Anak itu membuatku malu. Setiap hari aku mengeluh pada Tuhan akan kehidupan yang kini aku putar, kehidupan yang terkadang aku anggap sangat kasar, tak sepantar dengan mereka yang sepertinya tak pernah gusar. Ternyata aku salah besar, disana dibalik layar banyak manusia-manusia yang tak seberuntung aku yang masih bisa makan tinggal bayar, disana banyak keringat-keringat para pejuang kemerdekaan yang mereka implementasikan. 

Anak itu membuat haruku membisu. Dibalik senyum ramahnya ternyata tersimpan keinginannya keluar dari zona jalanan menuju zona nyaman.

Anak itu membuat rapuhku kelu. Aku tak bisa membayangkan jika saja Tuhan saat itu juga membalikan keadaannya untukku, mungkin aku akan semakin menggerutu mencela nikmat-nikmatNya yang aku anggap semakin keliru.

Anak itu, senja yang Tuhan hadirkan sebagai baja untuk pondasi hidupku yang kini dirasa penuh sengsara. 

Tuhan, kau sungguh maha bijaksana.  


Cirebon, 18 Oktober 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (2)]

Coelho mengajarkanku untuk tunduk dan hormat kepada hati dan jiwa, pun percaya kepada alam dan cinta. Maka, di sinilah diriku, Anindya. Mempersembahkanku untukmu, karenanya tak hentinya aku merindu. /1/  Ketika Kau Mengetuk Pintu Kata Aku sudah bilang, kau firdaus. Kau Adanu Suwarga, sementara aku adalah ahengkara yang haus. Aku adam,  kau wujud ahung tak terbendung. Maka ketika kataku kering, kau mengetuk-ngetuk dadaku dengan lentik ayunan jarimu yang hening. Kau jantung kata, aku hamba anitya; meski hancur lebur diriku kelak, kau akan tetap semarak. /2/ Cawan Seorang Asmarawan Untuk tahu sedalam apa kau menghunjam hatiku, tatap bintang itu. Jatuh ia ke mataku hingga palung kalbu. Pejamkan saja mata indahmu itu, bayangkan saja kau sedang ngopi di Mauna Kea, atau Death Valley, atau Alaska. Biar aku menyentuhmu lewat malam yang nalam, dan sungguh akan kubangun rasi puisi di langit matamu yang pejam.  Kau membaca puisiku dan selalu menerka-nerka apa maksudnya, kau tenggelam...

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (1)]

  /1/ Abadi Pada sebuah senja, aku menemukanmu di saku celana. Tubuhmu kusam dan tetap saja cantik, kau tersenyum dan aku mengaismu ke telapak tanganku yang tengik. Hari itu hujan sedang ramai mengetuk pintu bumi, aku hampir mati karena gejolak di bibir dan lidah yang tak kunjung henti. Dingin membawaku kepada semangkuk mie instan rasa rendang, selepas hangat itu lah malaikat maut berbisik karena tak jua disediakan rokok sebatang. Dan aku menemukanmu, kau bak pahlawan yang tak pernah kesiangan. Kau membawakan Tuhan ke pangkuan. Aku lenyap, kau zhahir dan bathin yang senyap, sementara hidup hanya milik zat yang tak butuh pengakuan.