Langsung ke konten utama

Kenapa Harus Menghajar?

Kenapa Harus Menghajar?

 


Ujaran kebencian tidak akan pernah berhenti sebelum ujaran pujian lenyap. Pujian dan kebencian sejatinya terlahir dari sebuah stimulan yang akhirnya menimbulkan pandangan dan perhatian yang nantinya akan membuahkan berbagai tanggapan.

Tanggapan akan dihasilkan setelah kita memerhatikan sesuatu karena terjadi pengamatan yang teliti dan seksama terhadap sesuatu. Maka, ketika kita hendak memberikan tanggapan, mengamati dengan teliti adalah suatu hal yang seharusnya sudah dilakoni. Selanjutnya akan timbul tanggapan berupa persepsi yang jelas dan bisa dianggap waras.

Media sosial adalah salah satu banyak sekali berita-berita yang melahirkan banyak tanggapan. Dan tak jarang tanggapannya berupa ujaran-ujaran kebencian, tapi itulah tanggapan. Semua berawal dari pengamatan, namun seharusnya pengamatan yang baik akan melahirkan pula tanggapan yang baik, bukan malah sebaliknya. Entah kesalahan yang mengamati, atau kesalahan yang diamati. Semua kembali pada persepsi.

Persepsi, hati-hatilah!

Semua hal yang terjadi tergantung pada persepsi, dan persepsi tak pernah mesti. Inilah yang harus kita yakini, kebenaran hakiki mutlak digenggam sang widi. Kita tidak berhak berdeklarasi bahwa persepsi kita paling benar, kita paling berhak berkomentar. Inilah yang sering membuat tanggapan menjadi momok yang benar-benar menakutkan, membuat kenyamanan terenyahkan secara bersamaan.

Ketika aku melihat banyak sekali pertikaian, lagi-lagi mengatasnamakan keagamaan, menjual dalil-dalil demi tercapainya keinginan. Sebenarnya, kenapa harus bertengkar, setiap hari pikiran gusar, mencari alasan-alasan untuk kembali berujar komentar, aku pun merasa tertular lantas ikut-ikutan menghajar. Bukankah hidup itu melerai, bukan malah bercerai.

Huh, dewasa ini bahasa banyak dijadikan senjata untuk menghujat, melaknat. Orang lupa terhadap hakikat bahasa sebagai alat untuk menggali akal budi, mengukuhkan kerja sama dan integrasi.
Marilah, ngopi. Agar sepi kita diampuni, mulut kita dikeringkan dari tanggapan basi dan dibasahi pahit yang mengubah persepsi.

Santai.. Santai.. Santai..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (2)]

Coelho mengajarkanku untuk tunduk dan hormat kepada hati dan jiwa, pun percaya kepada alam dan cinta. Maka, di sinilah diriku, Anindya. Mempersembahkanku untukmu, karenanya tak hentinya aku merindu. /1/  Ketika Kau Mengetuk Pintu Kata Aku sudah bilang, kau firdaus. Kau Adanu Suwarga, sementara aku adalah ahengkara yang haus. Aku adam,  kau wujud ahung tak terbendung. Maka ketika kataku kering, kau mengetuk-ngetuk dadaku dengan lentik ayunan jarimu yang hening. Kau jantung kata, aku hamba anitya; meski hancur lebur diriku kelak, kau akan tetap semarak. /2/ Cawan Seorang Asmarawan Untuk tahu sedalam apa kau menghunjam hatiku, tatap bintang itu. Jatuh ia ke mataku hingga palung kalbu. Pejamkan saja mata indahmu itu, bayangkan saja kau sedang ngopi di Mauna Kea, atau Death Valley, atau Alaska. Biar aku menyentuhmu lewat malam yang nalam, dan sungguh akan kubangun rasi puisi di langit matamu yang pejam.  Kau membaca puisiku dan selalu menerka-nerka apa maksudnya, kau tenggelam...

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (1)]

  /1/ Abadi Pada sebuah senja, aku menemukanmu di saku celana. Tubuhmu kusam dan tetap saja cantik, kau tersenyum dan aku mengaismu ke telapak tanganku yang tengik. Hari itu hujan sedang ramai mengetuk pintu bumi, aku hampir mati karena gejolak di bibir dan lidah yang tak kunjung henti. Dingin membawaku kepada semangkuk mie instan rasa rendang, selepas hangat itu lah malaikat maut berbisik karena tak jua disediakan rokok sebatang. Dan aku menemukanmu, kau bak pahlawan yang tak pernah kesiangan. Kau membawakan Tuhan ke pangkuan. Aku lenyap, kau zhahir dan bathin yang senyap, sementara hidup hanya milik zat yang tak butuh pengakuan.