Kenapa Harus Menghajar?
Ujaran kebencian tidak akan pernah berhenti sebelum ujaran pujian lenyap. Pujian dan kebencian sejatinya terlahir dari sebuah stimulan yang akhirnya menimbulkan pandangan dan perhatian yang nantinya akan membuahkan berbagai tanggapan.
Tanggapan akan dihasilkan setelah kita memerhatikan sesuatu karena terjadi pengamatan yang teliti dan seksama terhadap sesuatu. Maka, ketika kita hendak memberikan tanggapan, mengamati dengan teliti adalah suatu hal yang seharusnya sudah dilakoni. Selanjutnya akan timbul tanggapan berupa persepsi yang jelas dan bisa dianggap waras.
Media sosial adalah salah satu banyak sekali berita-berita yang melahirkan banyak tanggapan. Dan tak jarang tanggapannya berupa ujaran-ujaran kebencian, tapi itulah tanggapan. Semua berawal dari pengamatan, namun seharusnya pengamatan yang baik akan melahirkan pula tanggapan yang baik, bukan malah sebaliknya. Entah kesalahan yang mengamati, atau kesalahan yang diamati. Semua kembali pada persepsi.
Semua hal yang terjadi tergantung pada persepsi, dan persepsi tak pernah mesti. Inilah yang harus kita yakini, kebenaran hakiki mutlak digenggam sang widi. Kita tidak berhak berdeklarasi bahwa persepsi kita paling benar, kita paling berhak berkomentar. Inilah yang sering membuat tanggapan menjadi momok yang benar-benar menakutkan, membuat kenyamanan terenyahkan secara bersamaan.
Ketika aku melihat banyak sekali pertikaian, lagi-lagi mengatasnamakan keagamaan, menjual dalil-dalil demi tercapainya keinginan. Sebenarnya, kenapa harus bertengkar, setiap hari pikiran gusar, mencari alasan-alasan untuk kembali berujar komentar, aku pun merasa tertular lantas ikut-ikutan menghajar. Bukankah hidup itu melerai, bukan malah bercerai.
Huh, dewasa ini bahasa banyak dijadikan senjata untuk menghujat, melaknat. Orang lupa terhadap hakikat bahasa sebagai alat untuk menggali akal budi, mengukuhkan kerja sama dan integrasi.
Marilah, ngopi. Agar sepi kita diampuni, mulut kita dikeringkan dari tanggapan basi dan dibasahi pahit yang mengubah persepsi.
Santai.. Santai.. Santai..

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..