Tentang Kehilangan
Pernahkah anda mengalami kehilangan? Tentu jawabannya pasti pernah. Entah kehilangan harta, mungkin juga sebuah tahta yang dipuja, atau bahkan seorang wanita yang dicinta. Jika kita pernah mendapatkan, tentu kehilangan adalah hal yang mutlak akan dirasakan. Serapih apapun kita menjaganya, suatu saat hal itu akan sirna.
Terkadang kehilangan sesuatu menjadi hal yang cukup ditakuti, maka menjaga apa-apa yang kita miliki adalah keharusan yang mesti dilakoni dan disabari. Karena menjaga sejatinya lebih sulit daripada mencintai, eh maksudnya mencari.
Tuhan adalah kebaikan yang hakiki, atau hqq. Dia memberi banyak hal tanpa harus kita minta terlebih dahulu, memberi yang bukan hanya sekadar memberi. Dia yang maha memiliki, kita hanya sebatas makhluk yang dititipi, kita tak memiliki hak mengeksekusi sesuka hati. Tuhan memaksa kita untuk menjaga apa yang telah Dia beri. Menjaga dengan sepenuh hati dan loyalitas yang tinggi.
Manusia terkadang begitu berambisi untuk memiliki, akhirnya mendapati lalu ditinggal pergi.
Contohnya aku saja, sesuatu yang jelas-jelas aku alami, karena mencontohkan orang lain butuh bukti yang pasti. Aku pernah begitu berambisinya menghafalkan ayat-ayat Al-Quran, teori-teori menghafal aku pelajari, prakteknya semakin hari semakin menjadi. Ternyata Allah memang selalu menepati janji, Dia telah memudahkan Al-Quran untuk diingat dan dipelajari (Q.S. Al-Qomar: 17), faktanya menghafal Al-Quran tidak sesulit yang sebelumnya aku bayangkan.
Manusia juga terkadang pongah setelah memiliki, merasa hal tersebut sepenuhnya telah terpatri, akhirnya lupa bahwa sesungguhnya ia harus menjaga diri. Lagi-lagi aku adalah contoh selanjutnya. Setelah aku tidak jadi, sebut saja gagal berangkat menimba ilmu ke negeri mummy karena enggan mengikuti test sebab syarat hafalan Al-Qurannya belum sepenuhnya terpenuhi. Apa yang terjadi setelah itu, ternyata aku lupa diri. Niat memang tombaknya segala tabiat. Aku menghafal Al-Quran hanya karena ingin menuju negeri para nabi, belum sepenuhnya lillah berserah diri mengabdi. Sekarang aku berhenti menghafal, tetapi itu bukan masalah karena hukumnya adalah sunnah muakkad. Yang menjadi masalah adalah aku berhenti me-murajaah, seolah-olah aku lupa akan sesuatu yang telah aku miliki. Ini adalah contoh manusia yang hanya berambisi namun tak pandai menjaga diri, mohon jangan diikuti.
Lalu apa yang aku miliki saat ini? Tidak ada. Ayat-ayat itu entah pergi kemana, mungkin mereka pun sama seperti manusia, ingin diperhatikan. Karena aku melupakan, maka mereka pun pergi meninggalkan. Ini adalah sebuah kehilangan yang cukup menyakitkan sekaligus menambah daftar dosa-dosaku yang sudah seperti lautan.
Satu-satunya cara agar kembali berseri adalah kembali berambisi untuk mendapatkan kembali, lalu ikat dan jangan biarkan pergi lagi.
Cirebon, 20 Oktober 2017.

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..