Langsung ke konten utama

Motivator Terbaik

Motivator Terbaik

bangkit atau terpuruk?


Setiap orang memiliki persepsi  yang tidak sama mengenai diri dan keinginan kita. Tidak ada satupun orang yang akan mengerti detail keinginan kita, meski itu sobat terdekat, atau orang tua sekalipun, bahkan diri kita sendiri pun seringkali tidak memahami apa yang diinginkan.

Tetapi, apakah kita akan terus-menerus menuntut agar orang lain mengerti kita? Tentu tidak. Terkadang kita harus merasakan tamparan terlebih dahulu untuk menyadari sesuatu. Kadang kita juga harus belajar mendengar tanpa mendebat, belajar mendengar dan memahami, serta belajar mendengar dan mengerti bahwa orang lain pun memeiliki keterbatasan dalam memahami diri kita, perasaan kita, keinginan kita, dan ketidaksukaan kita.  Sebaliknya, kita harus menanyakan pada diri kita sejauh mana usaha kita agar kita dapat dimengerti orang lain.

Terkadang kita juga sukar memahami apakah orang-orang di sekitar kita menegrti kita? Tetapi, satu hal yang harsu kita yakini bahwa setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk memerlihatkan bentuk pengertiannya kepada kita, sekalipun kita tidak pernah tahu apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Salah satu bukti bahwa mereka mengerti kita adalah keberadaannya di sisi kita, ternyata mereka tidak meninggalkan kita di saat-saat diri kita merasa terpuruk. Inilah yang mesti kita fahami terhadap orang lain.

Kita sendiri lah yang paling menegerti akan diri kita serta semua potensi dan keunikan hidup yang kita miliki. Tugas kita selanjutnya adalah menggali hal tersebut, sesuatu yang sudah Tuhan simpan apik di dasar diri kita. Kita lah yang mempunya pilihan, akan menggali atau dibiarkan begitu saja, orang-orang di sekitar kita hanya motivator ekstrinsik. Jiwa dan diri kita lah motivator intrinsik terbaik untuk menjadi pribadi yang unggul.

Mau bangkit atau terpuruk? Itu pilihan kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

Akankah?

Sebuah Puisi Kehidupan     Akankah aku selalu seperti ini? Setiapnya aku terhina, aku unjuk rasa Aku katakan pada Tuhan, “Sekejam inikah takdirMu? Sepedih inikah keadilanMu?” “O, Tuhan..” “Hendaklah kau bahagiakan hatiku. kau tumbuhkan bunga-bunga kehidupan disekitarku.. tidak seperti.ini...tidak dengan pukulan-pukulan ini.” Sampai kapan? Hingga nafas tersengal Saat ajal bukan ratapan lagi Akankah aku sadar dan bergumam, “Laa-ilaaha-illa-Allah.. Ampuni kesombonganku.. Ampuni kelancanganku seolah mengatur kuasaMu..” “Aku kembali pada perintahMu, Tuhan.. Aku pasrah, semua adalah kehendakMu.. Aku yakin, semua adalah yang terbaik.. Terima aku dalam pangkuanMu..” Akankah? Akankah? Akankah sedramatis itu.. Tuhan, tegur aku sejak sajak ini selesai kutulis.. Kumohon, jangan nanti..  

Dan Hilang..

Sebuah puisi cinta Seperti petuah orang dulu Mencintai memang tak selamanya harus memiliki Memang.. Cinta akan tetap suci meski tak dimiliki Cinta akan tetap bergulir meski air sudah berhenti mengalir Cinta pun akan tetap masyuk meski mata sudah mulai mengantuk Tetapi sesak takkan pernah terelakkan Ketika mata dipaksa menyaksikan Sosok yang dicinta syahdu dalam kebahagiaan Bersama dunianya, lalu berpelukan Mencintai dalam kegonjang-ganjingan Namun apa daya Tak banyak yang dapat dilakukan Selain menggenggam erat rasa yang sudah melahirkan kenangan Tetapi tidak untuk setiap saat dikhayalkan Biarkan ia gugur dengan sendirinya Menyelam, lalu tenggelam ditelan keremangan Dan hilang..