Kau, Pembohong Yang Aku Sayang
Sebuah Cerpen
Seperti perahu, seorang ayah rela
diombang-ambing ombak kehidupan, dihantam banyak sekali karang dan bebatuan, hanya
untuk satu tujuan, menghantarkan buah hatinya melewati pelbagai warna-warni
kehidupan demi menuju kebahagiaan yang diimpikan.
Namaku Bara, konon aku dilahirkan
saat tengah terjadi perang bara api di kampungku, perang yang sudah menjadi
tradisi masyarakat Bali yang bertujuan untuk menghilangkan sifat bhuta kala atau
sifat jahat dalam masyarakat, namanya tradisi Teteran. Tapi sampai
usiaku cukup matang saat ini, aku tak pernah sekalipun mengikuti tradisi
tersebut, karena sejak usiaku lima tahun ayahku terpaksa membaawaku berkelana
ke Ibu kota demi mencukupi perekonomian yang mulai berantakan saat itu. Dan
tanpa sosok seorang ibu. Ya, ibu pergi entah kemana, meninggalkan aku dan ayah.
Kejadian yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, aku harus kehilangan dekapan
seorang ibu disaat aku tengah sibuk-sibuknya ingin mengenal dunia sekitarku.
Karena lilitan ekonomi yang terjadi di keluargaku inilah, ibu tega menggalkan kami. Mungkin ragamu tidak disini, Bu. Tapi takkan pernah sirna dari jiwa yang penuh dosa ini.
Tahun ini, aku mulai melanjutkan
pendidikanku yang sempat terhenti karena masalah ekonomi. Benar adanya bahwa
hasil tidak akan mengkhianati usaha. Dua tahun lamanya aku bekerja menjadi
seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, ayahku sudah
renta, tapi semangatnya bekerja tak pernah sirna, selau tertata. Hasilnya,
tabunganku dan ayah sudah cukup untuk membiayai hari-hari dan pendidikanku di
salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Alhamdulillah, aku terdaftar
sebagai mahasiswa bidikmisi Universitas Negeri Jakarta.
Kegiatan kuliah yang benar-benar
padat membuat aku terpaksa berhenti bekerja. Kini, ayah seorang diri banting
tulang mencari rejeki untuk menghidupi anaknya yang sedang mengejar cita-cita
menjadi seorang arsitek. Ya, sejak kecil aku memang bermimpi menjadi seseorang
yang bisa menghasilkan buah karya indah sebuah bangunan yang bermanfaat bagi
manusia, seorang arsitek.
Ayah bekerja sebagai pekerja bangunan,
sudah banyak dari gedung-gedung pencakar langit di Jakarta yang berdiri dari
cucuran keringat ayah. ketika pekerjaan benar-benar padat, ayah sering
menghabiskan waktunya diantara tumpukan semen dan bata-bata, tidur dan makan
disana, bahkan pernah satu minggu penuh ayah tidak pulang ke rumah, bukan tidak
peduli padaku atau tidak rindu, tapi tempat ayah memikul batu-batu selalu
berada di tengah kota, sedangkan rumah kami terparkir diantara kesempitan ruang
pelosok Jakarta. Jadi, ayah lebih memilih disana agar tidak bolak-balik karena
ongkos perjalanan yang cukup pelik.
![]() |
| Para pekerja proyek gedung-gedung Ibu kota |
“Nak, gak kuliah kau?” Sapa ayah
menyadarkan lamunanku, “Eh, Yah. Hari ini seluruh mahasiswa libur, di kampus
sedang ada kegiatan perlombaan.”
“oh, yasudah istirahat sana! Jangan malah
melamun. Ini hadiah dari Tuhan, jangan sia-siakan. Kau setiap hari sibuk dengan
perkuliahan.” Balas ayah memerintah.
“siap
komandan! Tapi, Yah?” tandasku berkeinginan, “Apa lagi? Sudah, ayah mau
berangkat.”
“aku ikut, Yah?” jawabku, “barangkali aku bisa
membantu mengangkatkan batu, mengaduk semen, atau..”
“tempat kau bukan di lapangan, Nak. Istirahat
sana!” ucap ayah memotong usulanku.
Aku hanya bisa terdiam, dalam hati bergumam, “ayah selalu begitu,
gak tahu apa anaknya ini kuat kaya Samson, otot kawat tulang besi.”
“ayah pamit, kemungkinan malam hari ayah baru
bisa pulang. Jaga rumah baik-baik. Awas ada setan berkeliaran.” Pungkas ayah
mengakhiri percakapan.
Lagi-lagi aku terkesan dengan setan, ayah selalu mengakhiri
pembicaraannnya dengan kalimat “awas ada setan.”, terkesan lucu tapi
benar-benar bermakna sangat dalam, ayah selalu mengakhiri dengan nasihat agar
aku selalu waspada terhadap godaan-godaan setan yang selalu memerintah
melanggar aturan Tuhan.
Pagi ini indah, Tuhan. Aku kembali
pada berbagai lamunan, namun rasa penasaran sedikit mengganggu pikiran, aku
ingin tahu apa saja yang ayah kerjakan, karenanya terpaksa aku harus membantah
perintah ayah hari ini. Maafkan anakmu ini, Yah. Aku bergegas mengambil jaket
di dalam, tas kecil berisi buku dan pena aku selempangkan, tak lupa rumah aku
kunci rapat-rapat, lantas pergi membuntuti langkah kaki ayah. Jarak aku dan
ayah tak cukup jauh, ayah berjalan sekitar dua ratus meter di depanku. Sampai
sekitar seratus langkah sudah aku berjalan, sepertinya ayah tidak menyadari
anaknya tengah membuntuti. Ayah terlihat disana, sambil menenteng tas di
bahunya, ayah menaiki bis kota, setelah ayah sempurna naik, bis itu cepat
kembali beroperasi karena khawatir mengganggu lalu lintas Ibu kota yang memang
rentan kemacetan. Aku berlari cepat menuju jalanan, aku sudah tahu kemana arah
tujuan ayah dari nama punggung bis itu yang sempat mataku rekam sebelum bis itu
terlampau jauh meninggalkan kemacetan. Tak banyak pikir, aku langsung menaiki
bis kota dengan jurusan yang sama yang ngetem di depan mata.
![]() |
| Budaya kemacetan Ibu kota |
Jalanan Ibu kota benar-benar sesuai
dugaan, baru sekitar satu kilometer lancar tanpa hambatan, puluhan mobil
berjajar memenuhi jalan seperti sedang menunggu antrean gajihan awal bulan,
inilah yang dinamakan kemacetan. Inilah Jakarta, kemacetan sudah menjadi bagian
dari warisan budaya. Ikon kota ini seharusnya bukan lagi monas, tapi patung
polisi jalanan, karena sepertinya setiap hari mereka benar-benar disibukkan
untuk mengurai kemacetan. Terimakasih, Pak.
Pandanganku jauh kedepan, memindai
bahu jalanan, barangkali mataku menemukan ayah disana, karena bis yang ayah
tumpangi sepertinya sudah tak terjebak kemacetan, bis itu sudah duluan.
Sepertinya aku kehilangan jejak. Aku terpaksa kembali diselimuti lamunan,
sambil menerka-nerka, kira-kira ayah
turun dari bis di tempat mana.
Brmmmm, suara starter bis tua ini membuyarkan lamunanku.
Syukurlah, ini pertanda bahwa jalanan sudah bisa dilewati kembali. Mataku
kembali memulai pengawasannya, gedung pencakar bermekaran, proyek-proyek besar
berjejeran, tapi tak satupun aku melihat ada tanda-tanda langkah ayah disana. Sekitar
satu kilometer sudah bis yang aku naiki kembali berjalan, sudahlah, aku
memutuskan untuk turun detik ini juga. Tiga kali suara cincin akik kenek bis
ini yang diadukan dengan besi tempat tangan disampaikan terdengar nyaring,
sebuah tanda bagi si supir bahwa ada penumpang yang hendak turun. Tak menunggu
lama, setelah menginjak bahu jalan aku langsung berjalan. Aku kembali mencari
ayah, mendatangi sampai tiga proyek besar di pinggir jalan, dan satu diantara
pemukiman. Lagi-lagi tak kutemukan ayah, bahkan namanya pun tak satupun ada
yang mengenal. Aku pikir ini sebuah kejanggalan. Secara, ayah pernah cerita
bahwa ia sering bekeja sebagai pekerja proyek bangunan besar, tapi anehnya tak
satupun pekerja yang kutanyai mengenal nama ayah. Aku semakin diselimuti rasa
penasaran yang semakin tak karuan.
Dalam hidup ini manusia seringkali mendapat
kejutan-kejutan, terkadang ada yang tiba-tiba datang, atau seketika pergi, ini
menunjukan bahwa kejutan tak selalu kebahagiaan. Aku melihat ayah disana, entah
ini kejutan yang membahagiakan atau mungkin menyedihkan. Aku mendapati ayah berada
diantara tumpukan sampah dan beberapa orang yang sedang melakukan hal yang sama. Karung
berukuran besar digantungkan dibahu kirinya, tangan kanannya memegang besi yang
ujungnya melengkung, sesekali menyimpannya dan digantikan dengan tangannya
menggali gundukan sampah disana. Ayah sedang memunguti botol-botol bekas,
kardus-kardus, paku-paku, dan barang-barang buangan yang lainnya.
![]() |
| Pahlawan-pahlawan Ibu kota |
Aku menghela nafas, setelah sekitar
beberapa saat terdiam tanpa kata. Kini aku mulai berkata, meski hanya dalam
dada. Sebuah rasa yang entah ini apa, menyaksikan sebuah kenyataan yang diluar
terkaan, seperti sebuah rekaan yang sengaja Tuhan ciptakan. Tapi ini nyata,
nyaris tidak ada rekayasa. Seorang ayah yang katanya kerjanya mengaduk resep
bangunan, memecahkan bebatuan, seharian bahkan berhari-hari larut dalam sebuah
proyek bangunan, ternyata itu adalah sebuah kebohongan, tak lebih dari cerita
fiksi yang sengaja ditulis untuk membahagiakan, menutupi kesengsaraan. Seorang
ayah yang aku kenal selalu menasihatiku agar hati-hati dari makhluk bernama
setan, ternyata ia sendiri yang kemasukan setan. Membohongi orang yang ia
sendiri besarkan, memanipulasi keadaan.
Ayah, aku belum sepenuhnya mengerti
apa yang sebenarnya kau lakukan. Kau benar-benar menutupi kesusahan yang kau
derita, kau membohongi bata-bata untuk sampah-sampah yang tidak tertata, kau
sembunyikan keringatmu diantara keping sampah yang kau kumpulkan, kau letakkan
kebahagiaanmu diatas pundakku, sedangkan kepahitan malah kau seruput keenakan.
Ayah, kau pembohong yang sayang. Suatu saat nanti, aku yang akan menjadi orang
diatas proyek-proyek besar itu, proyek yang sejak awal kau jadikan bahan
lemparan kesakitan.
Ayah, kau pembohong yang aku sayang.
kau pahlawanku, Yah...





Salam hormat saya diatas coretan swallaow biru...
BalasHapussalam kemuliaan diatas hormat bagi anda, Kawan..
BalasHapus