Tawakal dan Putus Asa itu Beda Tipis
Kehidupan yang kita jalani memang tak selamanya mulus, terkadang
membingungkan seperti kalkulus, bahkan lebih terjal lagi seringkali membuat
kita murus. Ini adalah bagian dari lika-liku kehidupan, serumit apapun hidup,
ia tetap harus dijalankan. Tidak ada kata berhenti sebelum semuanya benar-benar
Tuhan akhiri.
Dalam mengarungi samudera kehidupan,
seseorang tidak akan lepas dari yang namanya ujian, setiap insan pasti akan
bertemu dengan hal demikian, dalam keadaan suka atau duka, siap tidak siap,
ujian akan menetap menghampiri setiap insan.
Semakin tinggi keimanan
seseorang, maka akan semakin besar pula ujian yang kelak akan menerjang, ibarat
sebuah pohon, semakin tinggi maka akan semakin kencang pula hembusan angin yang
menimpanya, dalam hal ini ujian paling berat dihadapi oleh para nabi, kemudian
orang-orang shalih dan seterusnya tergantung kadar keimanan seseorang.
Allah SWT akan memberikan
kabar gembira bagi seseorang yang senantiasa bersabar atas segala ujian
kehidupan yang menimpanya, ia akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk dari-Nya, mendapat jaminan berupa kebaikan di dunia
maupun di akhirat serta mendapat pengampunan atas dosa-dosa yang telah ia
lakukan sebelumnya.
Berbicara tentang
sabar maka takkan lepas dari sifat tawakkal. Hakikat tawakal adalah apabila
seorang hamba menyandarkan diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati
dalam berbagai kemaslahatan agama dan dunianya dengan disertai melakukan
sebab-sebab yang mengantarkan kepada tujuan selama cara itu diperbolehkan oleh
syari’at. Dengan demikian tawakal itu meliputi keyakinan hati, penyandaran diri
serta melakukan amal perbuatan.
Dewasa ini,
banyak segelintir manusia yang berdalih tawakkal dengan bermalas-malasan,
enggan berikhtiyar menjalani hiruk-pikuk kehidupan. Ini terjadi karena ada
kesalahan persepsi yang menganggap tawakkal adalah pasrah, menjauhi keluh
kesah, dan menerima dengan bijak segala ketentuan Allah alias qonaah, tapi
tidak dilapisi dengan raga dan jiwa yang gagah untuk menghindari wabah,
berusaha sekuat tenaga untuk mengejar apa yang ingin ia dapat. Hal ini
menunjukan bahwa ada keputusasaan, tawakkal yang diartikan sebagai sebuah
kemalasan.
![]() |
| Jerry putus asa dengan segala ketentuan yang ada |
Jika mengingat
tentang sifat malas, sungguh Allah tidak ridha melihat hambanya menjadi seorang
pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan sampai
kita menjadi manusia dengan perbuatan demikian. Sejatinya, kita harus meraih kesenangan
dan kemenangan dengan bekerja dan berusaha. Karena kesenangan itu diciptakan,
tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan.
Inilah yang
menjadi topik pembahasan, bahwa tawakkal dan putus asa adalah dua hal yang
sejenis tetapi jelas berbeda. Allah sangat mencintai hambanya yang bertawakkal,
menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang maha kekal. Tetapi Allah benar-benar
membenci hambanya yang bermalas-malasan, berputus asa, dan enggan berusaha.
Sahabat pena,
mudah-mudahan kita selalu dihindarkan dari sifat malas, sifat culas terhadap
nikmat, sifat putus asa yang melekat. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan
ketabahan bagi kita dalam mengarungi derasnya arus kehidupan.
Saya tutup
dengan sebuah selogan yang tak asing di pendengaran, yang akan mengangkat
derajat kita di sisi Tuhan. Yakni “Berdoa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal” atau
yang biasa kita singkat dengan istilah D-U-I-T. Lebih intens lagi kita menyebutnya dengan DO IT!
![]() |
| You can if you think you can. Believe your self, Dude.. |



Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..