Langsung ke konten utama

PUISI-PUISI HUJAN - AYI YUSRIL


Berkunjung ke Matamu 

Mengunjungi matamu kala itu; saat hujan berteduh di bawah payung langit, adalah alasan mengapa hingga saat ini aku suka ulasan tentang kisah persetubuhan mata kita, pada sepetak rasa yang sama. 

[2019]

 


Fatamorgana

 

Setelah hujan rontok di ambang senja

jari-jemari serupa kelimun rupa

ia membuat ambara berselimut kabut

sementara mata hujan itu

menatap jendela hatimu.

 

Lalu pada suatu malam

yang diam amat dalam

engkau menggondol baswara rembulan

memasung refleksi pada bercak hujan

      dan

aku serupa salik

yang menjadikanmu suluk.

 

Sekali waktu

gemericik hujan itu

membawaku pada brantamara

seluruh ruh luruh

sementara kita amerta.

 

2021

 

Rindu Kelabu

 

Ku sampaikan rinduku lewat gerimis—

yang jatuh di reranting paling kering di depan rumahmu

tak ku sangka,

kau balas dengan hujan badai—

yang merobohkan rerimbun belukar;

melukai hati dan tubuh yang bergetar

hingga air mata berderai.

 

2019

 

 

Jika Kau Mengingat Apa
Arti Ketenangan

 

Kau tak menyadari sore itu

diam kita adalah aum

kopi gemelugut diterpa angin—dari

arah Tanjungsari, sebelum petang

daun-daun menentang hujan.

 

Dari atap aku menatap

geliat bocah memeluk tiang-tiang

“ibu, aku mau terjun.”

barangkali ketakutan-ketakutan

tak mampu menembus kemukus

yang dibangun imajinasi halus.

 

Dari doa yang dekat, kalimat berkelebat

kau tidak memeluk apapun

kecuali ketenangan.

 

2020

 

 


Musim Hujan

 

Aku ingin

            memanaskan air, menuangkan teh

            dan kopi, menggelar cemilan-cemilan

            dan sepanci sop ayam atau

            hanya semangkuk mie instan

rasa ayam bawang

            untuk menyambut kedatangan musim hujan

            yang haus dan lapar.

Aku ingin

            mematikan lampu-lampu

menyalakan lilin-lilin

            mengambil bulan yang terang di pangkuan ibu

            menggelar pertunjukkan puisi

            untuk menyambut kedatangan musim hujan

            yang sepi dan lelah.

Aku ingin

            membuat pesta kecil-kecilan

            untuk membahagiakan musim hujan

            agar lebat atau gerimis

            selalu menjadi teman manis

            ketika kau mengingat

            dengan keras atau lamat-lamat

            : aku, dan kisah kita.

Aku ingin

            kau.

 

2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (2)]

Coelho mengajarkanku untuk tunduk dan hormat kepada hati dan jiwa, pun percaya kepada alam dan cinta. Maka, di sinilah diriku, Anindya. Mempersembahkanku untukmu, karenanya tak hentinya aku merindu. /1/  Ketika Kau Mengetuk Pintu Kata Aku sudah bilang, kau firdaus. Kau Adanu Suwarga, sementara aku adalah ahengkara yang haus. Aku adam,  kau wujud ahung tak terbendung. Maka ketika kataku kering, kau mengetuk-ngetuk dadaku dengan lentik ayunan jarimu yang hening. Kau jantung kata, aku hamba anitya; meski hancur lebur diriku kelak, kau akan tetap semarak. /2/ Cawan Seorang Asmarawan Untuk tahu sedalam apa kau menghunjam hatiku, tatap bintang itu. Jatuh ia ke mataku hingga palung kalbu. Pejamkan saja mata indahmu itu, bayangkan saja kau sedang ngopi di Mauna Kea, atau Death Valley, atau Alaska. Biar aku menyentuhmu lewat malam yang nalam, dan sungguh akan kubangun rasi puisi di langit matamu yang pejam.  Kau membaca puisiku dan selalu menerka-nerka apa maksudnya, kau tenggelam...

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (1)]

  /1/ Abadi Pada sebuah senja, aku menemukanmu di saku celana. Tubuhmu kusam dan tetap saja cantik, kau tersenyum dan aku mengaismu ke telapak tanganku yang tengik. Hari itu hujan sedang ramai mengetuk pintu bumi, aku hampir mati karena gejolak di bibir dan lidah yang tak kunjung henti. Dingin membawaku kepada semangkuk mie instan rasa rendang, selepas hangat itu lah malaikat maut berbisik karena tak jua disediakan rokok sebatang. Dan aku menemukanmu, kau bak pahlawan yang tak pernah kesiangan. Kau membawakan Tuhan ke pangkuan. Aku lenyap, kau zhahir dan bathin yang senyap, sementara hidup hanya milik zat yang tak butuh pengakuan.