Langsung ke konten utama

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (1)]

 



/1/

Abadi

Pada sebuah senja, aku menemukanmu di saku celana. Tubuhmu kusam dan tetap saja cantik, kau tersenyum dan aku mengaismu ke telapak tanganku yang tengik. Hari itu hujan sedang ramai mengetuk pintu bumi, aku hampir mati karena gejolak di bibir dan lidah yang tak kunjung henti. Dingin membawaku kepada semangkuk mie instan rasa rendang, selepas hangat itu lah malaikat maut berbisik karena tak jua disediakan rokok sebatang. Dan aku menemukanmu, kau bak pahlawan yang tak pernah kesiangan. Kau membawakan Tuhan ke pangkuan. Aku lenyap, kau zhahir dan bathin yang senyap, sementara hidup hanya milik zat yang tak butuh pengakuan.

 

 /2/

Sampoerna

Masih saja orang-orang bertanya, apa nikmatnya sebatang Sampoerna. Sudah jelas semata retoris, semua tau begitu lembut dan mempesona ia. Barangkali sebatang rokok non cukai saja yang kini marak bak air bah di Jakarta, seolah menjadi jawaban mengapa rakyat kita adalah duafa yang gemar membakar derita. Paradoks ia, namun begitulah adanya. Rokok bagi kita adalah perjuangan menambal luka pada jalan, membangun jalan tol, jembatan, gedung parlemen, sekolah dan segenap harapan kemajuan.

 

 /3/

Surga Mana Lagi?

Pendidikan ibu adalah sungai tanpa muara. Mengalir ia hingga alir kehilangan air. Sementara kasih sayang ibu, nyaris saja membuat Tuhan seolah tabu. Andai boleh aku berkomentar pada Tuhan yang maha tahu, mengapa begitu sempurnanya engkau mengukir ibu. Ia cantik meski tak secantik firman-Mu, ia anggun meski tak seanggun kuasa-Mu, ia begitu tak tertandingi di bumi. Tuhanku yang maha sempurna, surga mana lagi yang kau janjikan selain ibu?

 

 

 /4/

Bumi Melaporkan

Selamat petang, masih dengan musim hujan yang cukup tenang. Bumi melaporkan bahwa cinta dan segala kerinduan benar-benar tak punya perasaaan. Keduanya adalah sejoli yang tak mungkin dipisahkan, atau barangkali semacam api dan panasnya atau air dan alirnya. Demikian dari bumi, semoga malam yang akan tiba hanya membawa langit gelap tanpa menggendong kelam yang asu dan bangsat sekali.

 

 

/5/

Melankolia

 

Makin cantik engkau kini

siapakah gerangan yang akan mencumbu tanganmu

yang begitu tangkas mengupas

kulit langit yang rangkas

sementara aku adalah daging bumi

yang semakin tak tahu diri.

 

Makin cantik engkau kini

aku pikir sajak dan puisi

cukup pintar dan cerdik

atau sekadar tak bodoh dan goblok

namun kata dan tata bahasa

ternyata tak cukup sempurna

untuk mengukir jelita

pada kedipmu yang manja.

 

Makin cantik engkau kini

aku sampai lupa minum kopi.

 

—season satu ditulis pada hari kamis di tanggal yang cukup puitis, sebelas sebelas duaribuduasatu. 

Komentar

Posting Komentar

Silakan komentar secara bijak dan indah..

Postingan populer dari blog ini

TEKNIS, TRIK, DAN TIPS M2IQ (MKTQ) PADA PERGELARAN MTQ

  Apa sih M2IQ? M2IQ atau Musabaqah Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dalam kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).  M2IQ ini adalah salah satu cabang yang paling kompleks dan peminatnya tidak cukup banyak. Khususnya di daerah-daerah yang “kecil”.  Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang digunakan lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini benar-benar menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Oh, ya. M2IQ juga biasa dikenal dengan istilah lain, yakni MMQ (Musabaqah Menulis Al-Quran), M2KQ (Musabaqah Menulis Kandungan Al-Qur`an), MKTQ (Musabaqah Karya Tulis Al-Qur`an), atau sebagaimana update terbaru disebut MKTIQ (Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur`an. Meskipun istilahnya berubah-ubah, namun pada substansi teknis perlombaannya tidak banyak mengalami perubahan....

SAJAK-SAJAK AYI YUSRIL [KAMIS PUITIS (2)]

Coelho mengajarkanku untuk tunduk dan hormat kepada hati dan jiwa, pun percaya kepada alam dan cinta. Maka, di sinilah diriku, Anindya. Mempersembahkanku untukmu, karenanya tak hentinya aku merindu. /1/  Ketika Kau Mengetuk Pintu Kata Aku sudah bilang, kau firdaus. Kau Adanu Suwarga, sementara aku adalah ahengkara yang haus. Aku adam,  kau wujud ahung tak terbendung. Maka ketika kataku kering, kau mengetuk-ngetuk dadaku dengan lentik ayunan jarimu yang hening. Kau jantung kata, aku hamba anitya; meski hancur lebur diriku kelak, kau akan tetap semarak. /2/ Cawan Seorang Asmarawan Untuk tahu sedalam apa kau menghunjam hatiku, tatap bintang itu. Jatuh ia ke mataku hingga palung kalbu. Pejamkan saja mata indahmu itu, bayangkan saja kau sedang ngopi di Mauna Kea, atau Death Valley, atau Alaska. Biar aku menyentuhmu lewat malam yang nalam, dan sungguh akan kubangun rasi puisi di langit matamu yang pejam.  Kau membaca puisiku dan selalu menerka-nerka apa maksudnya, kau tenggelam...