/1/
Abadi
Pada sebuah senja,
aku menemukanmu di saku celana. Tubuhmu kusam dan tetap saja cantik, kau
tersenyum dan aku mengaismu ke telapak tanganku yang tengik. Hari itu hujan
sedang ramai mengetuk pintu bumi, aku hampir mati karena gejolak di bibir dan
lidah yang tak kunjung henti. Dingin membawaku kepada semangkuk mie instan rasa
rendang, selepas hangat itu lah malaikat maut berbisik karena tak jua
disediakan rokok sebatang. Dan aku menemukanmu, kau bak pahlawan yang tak
pernah kesiangan. Kau membawakan Tuhan ke pangkuan. Aku lenyap, kau zhahir dan
bathin yang senyap, sementara hidup hanya milik zat yang tak butuh pengakuan.
Sampoerna
Masih saja
orang-orang bertanya, apa nikmatnya sebatang Sampoerna. Sudah jelas semata
retoris, semua tau begitu lembut dan mempesona ia. Barangkali sebatang rokok
non cukai saja yang kini marak bak air bah di Jakarta, seolah menjadi jawaban
mengapa rakyat kita adalah duafa yang gemar membakar derita. Paradoks ia, namun
begitulah adanya. Rokok bagi kita adalah perjuangan menambal luka pada jalan,
membangun jalan tol, jembatan, gedung parlemen, sekolah dan segenap harapan
kemajuan.
Surga Mana Lagi?
Pendidikan ibu
adalah sungai tanpa muara. Mengalir ia hingga alir kehilangan air. Sementara
kasih sayang ibu, nyaris saja membuat Tuhan seolah tabu. Andai boleh aku
berkomentar pada Tuhan yang maha tahu, mengapa begitu sempurnanya engkau
mengukir ibu. Ia cantik meski tak secantik firman-Mu, ia anggun meski tak
seanggun kuasa-Mu, ia begitu tak tertandingi di bumi. Tuhanku yang maha sempurna,
surga mana lagi yang kau janjikan selain ibu?
Bumi Melaporkan
Selamat petang,
masih dengan musim hujan yang cukup tenang. Bumi melaporkan bahwa cinta dan
segala kerinduan benar-benar tak punya perasaaan. Keduanya adalah sejoli yang
tak mungkin dipisahkan, atau barangkali semacam api dan panasnya atau air dan
alirnya. Demikian dari bumi, semoga malam yang akan tiba hanya membawa langit
gelap tanpa menggendong kelam yang asu dan bangsat sekali.
Melankolia
Makin cantik engkau kini
siapakah gerangan yang akan mencumbu tanganmu
yang begitu tangkas
mengupas
kulit langit yang
rangkas
sementara aku
adalah daging bumi
yang semakin tak
tahu diri.
Makin cantik engkau
kini
aku pikir sajak dan
puisi
cukup pintar dan
cerdik
atau sekadar tak
bodoh dan goblok
namun kata dan tata
bahasa
ternyata tak cukup
sempurna
untuk mengukir
jelita
pada kedipmu yang
manja.
Makin cantik engkau
kini
aku sampai lupa
minum kopi.
—season satu
ditulis pada hari kamis di tanggal yang cukup puitis, sebelas sebelas duaribuduasatu.

Nice
BalasHapus