Sebagaimana acara-acara lainnya, Muktamar NU ke-34 yang
dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa’adah (Lampung) juga diawali dengan
seremoni pembukaan. Acara tersebut berlangsung selama kurang lebih dua jam,
mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB (21/12/21). Tentu saja saya menyaksikannya
secara virtual, kebetulan seremoni ini selain disiarkan di kanal-kanal youtube
NU, juga disiarkan secara “eksekutif” di kanal youtube Sekretariat Negara.
Wajar saja, toh NU memang organisasi keislaman terbesar di Indonesia.
Sependek pengamatan saya, seremoni tersebut berjalan cukup
khidmat. Mulai dari pembacaan ayat Al-Qur`an hingga penutup dan doa. Lalu apa
menariknya? Apa istimewanya? Tunggu dulu, sobat, sebat dulu dan seduh dulu
kopimu. Hal yang menarik dari seremoni ini tentunya bukan sambutan panitia
pelaksana yang di acara apapun cenderung monoton dan membosankan, namun hal
menarik itu ada pada acara simbolis pembukaan Muktamar NU ke-34 tersebut.
Setelah Presiden Jokowi selesai berpidato yang cukup
panjang, mulai dari “yang terhormat”, bahas covid-19, vaksinasi, memuji NU,
hingga main pingpong virtual bersama Mark Zuckerberg, kemudian MC mempersilakan
Presiden dengan didampingi beberapa pejabat untuk menabuh rebana sebagai
simbolis peresmian pembukaan Muktamar NU ke-34. Pejabat yang mendampingi itu
yakni tentu saja Wapresnya, juga Mensetneg, Menag, Gubernur Lampung, Rais Am
NU, dan Ketum PBNU.
Loh, dimana uniknya? Sebentar dulu. Jadi begini, sobat.
Tujuh pejabat yang didaulat untuk memukul rebana tersebut masing-masing
memegang sebuah rebana yang sudah disediakan panitia. Kemudian mereka
memukulnya, dungsss dungsss dungsss. Mungkin bagi mereka yang awam mengenai
rebana akan terlihat biasa saja dan tidak ada yang menarik. Namun dalam
kacamata saya selaku aktivis garis keras pergenjringan, melihat ada satu hal
yang menarik. Apa itu? Yakni Kyai Maruf Amin, atau Wapres kita semua.
Terlepas dari kritik yang tajam dan nyelekit kepada beliau
karena posisinya yang katanya useless, namun kali ini beliau menunjukkan
betapa lebih kerennya beliau dibanding enam pejabat lainnya, yakni dalam
pose-nya memukul rebana tersebut. Namun sejauh ini, saya belum menemukan media
ataupun praktisi rebana—yang merangkap penulis—yang membahas hal tersebut. Maka
dari itu, saya merasa terpanggil untuk mengangkat hal yang kurang penting tapi
menarik tersebut.
Jadi begini, setidaknya ada tiga hal yang membuat Kyai
Maruf terlihat lebih keren dan gagah. Pertama, rebana yang dipegang beliau
diambilkan dan diberikan langsung oleh Presiden Jokowi. Keren kan? Bagaimana
tidak, sekelas presiden saja sebegitu hormatnya sama beliau, loh kita rakyat
ecek-ecek yang rokok saja masih diisap sampe batas akhir filternya dengan
lantang dan gagahnya berani mengolok-olok beliau. Ya, kalo aktivitasnya sebagai
wapres wajar dikritik, tapi gak juga bawa-bawa fisiknya kali.
Kedua, Kyai Maruf terlihat lebih professional dalam pose
dan tekniknya dalam memegang rebana. Beliau memegang rebana layaknya penabuh
hadrah profesional seperti Ahbabul Musthafa, Az-Zahir, Iqsas, Faroidul Bahiyah,
Sukarol Munsyid, dan lainnya. Kyai Maruf mengangkat rebana dengan tenang dan
gagah, menampatkannya tepat di bawah tingkat dada yang merupakan posisi ideal
rebana ditempatkan, sementara enam pejabat lainnya cenderung “menjinjing”
rebana tersebut.
Fyi, alasan mengapa posisi dan teknik yang digunakan Kyai Maruf
itu keren adalah karena dalam seni hadrah (rebana) posisi rebana dalam
genggaman pemain akan memengaruhi kualitas suara yang dihasilkan. Teknik Kyai
Maruf adalah teknik dasar yang ideal dalam dunia pergenjringan, dengan teknik
tersebut pemain (penabuh) rebana akan lebih mudah mengatur suara “tak” atau
“tang” dengan menekan jari-jari yang berada di permukaan rebana, sementara
suara “dung” dihasilkan hanya dengan melepas tekanannya tersebut. Adapun posisi
dan teknik yang dilakukan enam pejabat lainnya cenderung terlihat seperti
anak-anak yang baru belajar seni hadrah dan belum mampu kuat mengangkatnya
ketika posisi berdiri (mahal al-qiyam), alhasil hanya seolah
menjinjingnya.
Ketiga, Kyai Maruf terlihat seperti menabuh rebana tersebut
dengan ritme “tak dung, dung, tak tak, dung”. Ya, meskipun memang tidak jelas
suaranya jika didengar dari live streaming, namun tempo dan ritme dari
gerakannya seolah terlihat sedang memainkan irama tersebut. Ya, tapi arangkali
ini hanya subjektifitas saya karena kekaguman awal dari teknik memegang beliau
yang keren. Andaikata memang Kyai Maruf memainkan irama demikian, sungguh keren
kuadrat. Artinya, beliau menunjukkan bahwa selain karirnya sebagai ulama dan
politikus yang mentereng, beliau juga memiliki basic seni hadrah yang
mantap.
Selain itu, beliau seolah menunjukkan bahwa “kesantrian”
beliau yang kiranya cukup sempurna. Sudah, pandai baca kitab, intelektual, bisa
main rebana pula. Ajib. Tanpa mendiskreditkan enam pejabat dan santri
lainnya yang ada di atas panggung sana, namun saya dan kita semua patut
mengacungi jempol dan mengangkat topi kepada Kyai Maruf atas
penampilannya yang sungguh luar biasa. Sepertinya, kalo konser Habib Syekh di
Istana Negara seru juga ya?! Demikian, semoga menemani ibadah ngopi anda.
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..