Al-Qur`an adalah
sumber utama bagi manusia dalam mengarungi kehidupan. Khususnya bagi umat
Islam, Al-Qur`an hadir tidak hanya sebagai pedoman keilmuan saja, ia juga
sebagai teman yang selalu ada di setiap dinamika kehidupan kita. Oleh karena
itu, betapa pentingnya Al-Qur`an bagi kita, umat muslim, ia adalah mukjizat
termulia bagi Nabi Muhammad SAW dan anugerah terindah bagi kita semua.
Sebagai sumber
utama, Al-Qur`an tentunya memuat banyak sekali pedoman dan pembelajaran bagi
umat manusia. Mulai dari Akidah, Ibadah, hingga Akhlak dan Kisah. Namun karena
sifat “keistimewaan” yang dimiliki Al-Qur`an, kita sebagai manusia tentunya
memerlukan pedoman untuk mengkajinya. Para ulama—baik salaf maupun
kontemporer—sudah memberikan rancangan dan konsep bagaimana cara kita mengkaji
dan memahami Al-Qur`an, yakni melalui ilmu Ulum Al-Qur`an.
Salah-satu konsep Ulum Al-Qur`an yang dilahirkan dari tangan ulama kontemporer adalah kitab yang berjudul “Kayfa Nata’amal Ma’a Al-Qur`an Al-Adzhim”. Kitab tersebut merupakan buah tangan Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, ulama kontemporer kenamaan yang ahli dalam banyak bidang keagamaan. Maka dalam tulisan ini, saya hendak memberikan deskripsi dan komentar singkat mengenai karya tersebut.
Mini Biografi Yusuf Al-Qardhawi
Yusuf ibn Abdullah
al-Qardhawi atau yang masyhur dengan nama Yusuf Qardhawi adalah seorang pemikir
dan aktivis Islam yang lahir pada 9 September 1926, di Thurab, Mesir Barat.
Saat usianya masih 2 tahun, ayahnya meninggal dan kemudian beliau diasuh oleh
pamannya. Yusuf Qardhawi tumbuh dan besar di kalangan cendekiawan agama, beliau
menjadi anak yang tekun dalam mempelajari literatur-literatur keagamaan klasik
dan berhasil menghafal Al-Qu’ran saat umurnya masih 10 tahun.
Adapun riwayat
pendidikan formal Al-Qardhawi dimulai dari madrasah tingkat dasar Al-Ilzamiyah
dan Al-Kuttab di Mesir. Setelah lulus dari kedua sekolah tersebut,
beliau meneruskan pendidikan setingkat SMU di daerah Thantha. Kemudian
pendidikannya dilanjutkan di Universitas Al-Azhar dan tahun 1953 beliau
mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Al-Azhar dengan nilai
mumtaz. Tahun 1960, Al-Qardhawi memulai
pendidikan Pascasarjana di Universitas yang sama dengan mengambil jurusan
Tafsir Hadits dan lulus tahun 1962. Kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di
Al-Azhar dengan durasi 13 tahun.
Karir akademisi
Al-Qardhawi dimulai saat pindah ke Daha, Qatar. Disana beliau mendirikan
Madrasah Ma’had Al-Din yang menjadi embrio Universitas Qatar.
Al-Qardhawi merupakan dosen senior yang pernah menjabat sebagai Kepala Jurusan
dan Dekan Fakultas Syariah di Universitas tersebut. Selain aktif sebagai
pendidik dan pendakwah, beliau juga merupakan penulis yang produktif. Beberapa
karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya buku Pemikiran
Islam Radikal, Membumikan Islam, Fiqih Jihad, Islam Jalan Tengah, Bagaimana
Berinteraksi dengan Al-Qur`an, dan sebagainya.
Pemikiran
Al-Qardhawi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Syaikh Hasan Al-Banna dan
ulama-ulama besar Al-Azhar lainnya. Al-Qardhawi hidup dalam kondisi sosial dan
politik masyarakat Mesir yang tengah bergejolak pada tahun 1970, beliau
ditangkap karena terlibat dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin yang mendukung
revolusi Mesir. Kondisi sosial yang keras menjadikannya salah satu ulama yang
konsisten dalam menjaga dan menyampaikan kemurnian ajaran Islam.
Identitas dan Deskripsi Buku
Buku ini memiliki
judul asli “Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Qur`an Al-‘Adzhim”, pertama kali
diterbitkan oleh penerbit Daar As-Syuruq (Kairo) pada tahun 1419 H/1999
M. Kemudian buku ini
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdul Hayyi Al-Kattani dengan
judul “Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Qur`an” pada tahun 1420 H/1999 M yang
pertama kali diterbitkan oleh penerbit Gema Insani Press yang juga diterbitkan
oleh Penerbit Al-Kautsar (2000-2016).
Terbagi atas empat
bab dengan 658 halaman, buku ini ditulis oleh Yusuf Al-Qardhawi dengan tujuan
untuk menjelaskan Al-Qur`an dan ilmu-ilmunya kepada masyarakat. Bab I berisi
karakteristik dan tujuan Al-Qur`an seperti deskripsi mengenai Al-Qur`an sebagai
wahyu ilahi, sebagai mukjizat, sebagai penjelas dari kitab-kitab samawi sebelumnya,
sebagai kitab suci yang selalu relevan di setiap zaman, dan beberapa diskusi
lainnya. Bab I ini ibarat sebuah pendahuluan atau pintu masuk kepada
kajian-kajian Al-Qur`an yang lebih komprehensif lagi ke depannya.
Bab II berisi
penjelasan mengenai cara berinteraksi dengan Al-Qur`an melalui menghafal,
membaca, dan mendengarkannya. Dalam Bab ini Al-Qardhawi membagi ketiga
bahasannya dalam dua sub bab. Pasal 1 menjelaskan tentang keutamaan Al-Qur`an,
etika menghafal, dan kewajiban intelektual bagi penghafal Al-Qur`an. Pasal 2
menerangkan tentang etika membaca Al-Qur`an, tajwid dan tadabbur Al-Qur`an,
cara berdialog dan menciptakan harmoni dengan Al-Qur`an, dan etika mendengarkan
atau menyimak Al-Qur`an.
Bab III berisi
penjelasan mengenai pemahaman tafsir sebagai bentuk interaksi. Dalam bab ini
Al-Qardhawi menjelaskan mengenai tafsir dan kedudukannya serta kebutuhan
manusia terhadapnya, juga mengenai kaidah tafsir dan perbandingannya antara
metode bil-Matsur dan bil-Ra`yi. Selain itu Al-Qardhawi juga
menjelaskan mengenai metode yang ideal dalam menafsirkan Al-Qur`an, yakni
seperti mengintegrasikan antara tafsir Riwayat dan Dirayat, juga tafsir
Al-Qur`an dengan Al-Qur`an atau dengan As-Sunnah yang shahih, dan diskusi lainnya.
Sekaligus di bab ini juga Al-Qardhawi membahas perihal hal-hal yang harus
dihindari dalam menafsirkan Al-Qur`an, seperi terlalu fokus pada ayat
mutasyabihat dan meninggalkan ayat muhkamat, disorientasi takwil dan nash,
mempercayai israiliyyat, keluar dari ijma’ umat, dan diskusi lainnya.
Kemudian dalam penutup bab ini, Al-Qardhawi memberikan penjelasan mengenai
Tafsir Ilmiah Al-Qur`an beserta ulama yang pro atau kontra terhadap metode
tersebut, dibahas disana seperti Syeikh Syaltut, Sayyid Qutb, hingga Al-Ghazaly
dan Asy-Syathiby.
Bab IV menjelaskan
mengenai serba-serbi aktualisasi nilai dan kandungan Al-Qur`an. Dalam bab ini
Al-Qardhawi membahas mengenai akhlak qur`ani, Al-Qur`an sebagai jalan hidup
manusia, Al-Qur`an dan relasinya dengan konstitusi kenegaraan, Al-Qur`an
sebagai dustur dakwah, urgensi beriman kepada kitab Allah, dan penjelasan
mengenai perhatian Al-Qur`an terhadap seluruh hal secara komprehensif yang
harus kita perhatikan.
Apresiasi
Buku ini secara
general membahas begitu banyak penjelasan mengenai Al-Qur`an, mulai dari etika
hingga ragam keilmuan yang harus dipahami. Oleh karena itu, saya merasa
kesulitan jika diminta untuk merangkum secara komprehensif terhadap buku ini
apalagi dengan kualitas pemahaman dan kuantitas waktu membaca saya yang relatif
singkat. Namun di samping itu, kita perlu mengangkat topi bagi sang penerjemah,
Kathur Suhardi, beliau mampu menangkap esensi besar karya Al-Qardhawi ini
melalui diksi dan kalimat yang sederhana.
Apresiasi
setinggi-tingginya saya sampaikan kepada Syeikh Yusuf Al-Qardhawi atas dedikasi
dan sumbangsihnya pagi dunia intelektual Islam. Melalui hadirnya buku ini,
tentunya hanya sependek pengamatan saya, beliau mampu menjelaskan bagaimana
seharusnya kita berinteraksi dengan Al-Qur`an dan dengan sangat gamblang
menyingkap tabir serba-serbi kesalahan paradigma dalam “dunia” kajian
Al-Qur`an. Ada tiga hal setidaknya yang membuat buku ini sangat baik untuk
dikonsumsi para cendekiawan Islam kontemporer, yakni:
Pertama, Al-Qardhawi sukses menyingkap
realitas masyarakat terhadap Al-Qur`an. Pelbagai problematika kontemporer yang
hadir dalam diskusi umat beliau jelaskan dengan gamblang. Misalnya saja terkait
upah dalam mengajarkan Al-Qur`an. Pada bagian akhir di bab II buku ini,
Al-Qardhawi mengemukakan bahwa mengajar Al-Qur`an dilakukan dengan tiga bentuk,
yakni 1) tujuan ibadah tanpa upah, 2) mengajar dengan upah, dan 3) mengajar
tanpa syarat, jika ada upah maka dianggap hadiah. Menurut Al-Qardhawi, bentuk
pertama mutlak mendapat pahala. Adapun bentuk kedua masih diperdebatkan ulama, ada yang pro
dan kontra. Sementara bentuk ketiga, jumhur ulama mengatakan kebolehannya.
Kedua, Al-Qardhawi menjelaskan
mengenai dua pendekatan umum dalam menafsirkan Al-Qur`an dengan komprehensif,
yakni tentang tafsir riwayat dan tafsir dirayat. Masing-masing pendekatan ini
dijelaskan plus dan minusnya oleh Al-Qardhawi. Misalnya tafsir riwayat menurut
Al-Qardhawi banyak ditemykan kualitas riwayatnya yang tidak mencapai derajat
shahib, pun seringkali muncul ragam pendapat yang berbeda antara sahabat dengan
sahabat lainnya ataupun tabiin. Sementara tafsir dirayat kekurangannya sangat
terlihat karena ketergantungannya pada kecakapan dan integritas mufasir. Oleh
karena itu, Al-Qardhawi memberikan solusi metode penafsiran yang paling ideal
adalah dengan mengintegrasikan antara riwayat dan dirayat.
Ketiga, selain menyingkap problematika
umat Al-Qardhawi juga dalam buku ini banyak membahas mengenai kekeliruan dalam
memahami Al-Quran. Realitas yang sering ditemui adalah seringnya diantara kita
yang menggunakan Al-Qur`an di luar konteks nash-nya. Misalnya saja, Al-Qardhawi
membincang mengenai anggapan bahwa Al-Qur`an mencegah poligami dan anggapan
bahwa Al-Qur`an mengharamkan nyanyi-nyanyian secara mutlak.
Keempat, mengenai Tafsir Ilmiah yang
menganggap bahwa Al-Qur`an sangat sejalan dengan sains. Misalnya saja mengenai
Big Bang, perkembangan embrio, fungsi gunung, klasifikasi lautan, dan
sebagainya. Dalam hal ini, Al-Qardhawi cenderung mendukung paradigma tafsir
ilmiah tersebut, namun beliau juga sangat mewanti-wanti akan kekeliruan dari
pemahaman tersebut. Sebab menurut Al-Qardhawi, kadangkala kita senang melakukan
kekeliruan dalam mengeksplorasi Al-Qur`an dengan sains. Banyak ditemui hal-hal
yang terkesan memaksakan untuk dikorelasikan atau kini dikenal sebagai
“cocoklogi”. Fenomena tersebut yang diwanti-wanti oleh Al-Qardhawi untuk
dihindari, sebab menurutnya Al-Qur`an bukan kitab sains sehingga kita tidak
boleh berkespektasi tinggi bahwa akan ditemukan penjelasan sains secara detil
di dalamnya.
Demikian empat highlight
yang dapat saya uraikan dalam tulisan ini yang saya kira sangat keren dan
patut untuk didiskusikan. Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..