Coelho mengajarkanku untuk tunduk dan hormat kepada hati dan jiwa, pun percaya kepada alam dan cinta. Maka, di sinilah diriku, Anindya. Mempersembahkanku untukmu, karenanya tak hentinya aku merindu.
/1/
Ketika Kau Mengetuk Pintu Kata
Aku sudah bilang, kau firdaus. Kau Adanu Suwarga, sementara aku adalah ahengkara yang haus. Aku adam, kau wujud ahung tak terbendung. Maka ketika kataku kering, kau mengetuk-ngetuk dadaku dengan lentik ayunan jarimu yang hening. Kau jantung kata, aku hamba anitya; meski hancur lebur diriku kelak, kau akan tetap semarak.
/2/
Cawan Seorang Asmarawan
Untuk tahu sedalam apa kau menghunjam hatiku, tatap bintang itu. Jatuh ia ke mataku hingga palung kalbu. Pejamkan saja mata indahmu itu, bayangkan saja kau sedang ngopi di Mauna Kea, atau Death Valley, atau Alaska. Biar aku menyentuhmu lewat malam yang nalam, dan sungguh akan kubangun rasi puisi di langit matamu yang pejam.
Kau membaca puisiku dan selalu menerka-nerka apa maksudnya, kau tenggelam dan tafsir kerumitan yang sengaja aku ciptakan. Barangkali begitulah aku, Anindya. Rumit dan tak menentu, namun penuh kerinduan amat dalam. Kau hadir dan tenggelam jatuh, di hatiku dan menyibak tabir ruh.
Di sana, di dasar aku mengukirmu. Aku menutup biar tak ada yang lain menatap, namun tak pernah sekalipun aku memenjarakanmu, kau bebas tanpa batas. Aku menjamumu sejak itu, dengan cawan yang kubeli dari para dewa, karena itulah aku lebur dan menyatu. Aku cawanmu, kubiarkan kau menyeduh apapun disana, menciumnya, dan semakin saja aku menjadi hamba asmaradahana.
/3/
Harta Seorang Pujangga
Aku selalu berkata, kau cantik. Kau, Anindya, Harta karun yang kupunya.
2022
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..