Dalam kehidupan di zaman modern ini, dunia banyak diisi oleh generasi milenial—yang lahir antara tahun 1980-an dan 2000-an , perkembangan teknologi informasi sudah layaknya air yang terus mengalir dari hulu hingga hilir dan tidak ada habisnya, teknologi informasi semakin tumbuh subur. Akan tetapi air yang mengalir pun tidak semuanya jernih, banyak pula air yang mengalir namun kotor dan menjijikkan. Demikian juga teknologi informasi, tidak semuanya mengandung kejernihan isi, namun banyak pula yang tidak memiliki esensi bahkan buruk dan menghancurkan.
Oleh karena itu, untuk mengimbangi perkembangan teknologi informasi saat ini memang sangat dibutuhkan semacam penyaring (filter) untuk memperoleh dan memanfaatkan teknologi informasi dalam hal-hal yang bermanfaatnya saja bagi kehidupan dan segala aspeknya
Hemat saya, hal yang paling utama untuk dilakukan dalam upaya penyaringan perkembangan dunia informasi tersebut adalah dengan mampu dan tanggap dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan berliterasi, mengapa? Karena untuk mampu dan tanggap dalam mengolah sesuatu seseorang harus faham betul dan kritis terhadap segala hal terkait sesuatu tersebut yang kemudian dipungkas dengan menarik kesimpulan dan solusi yang bisa dilakukan. Dan demikian alasan tersebut: faham, kritis, dan menganalisis, merupakan sedikit dari banyaknya hal yang masuk dalam ranah literasi.
Berliterasi adalah belajar mengenal diri sendiri, orang lain, dan lingkungan yang kita tinggali; bumi. Oleh karena itu penting bagi setiap diri untuk berliterasi, terkhusus bagi kalangan akademisi yang memang mempunyai tugas mulia untuk menyebarkan pemahaman (ilmu) yang baik dan benar bagi orang lain dan lingkungannya. Diantara kaum akademisi tersebut adalah para kyai dan santri, maka penting bagi mereka untuk berliterasi, terlebih mereka merupakan sebagai salah satu kekuatan dan tunas harapan bagi Negara dan Agama (Islam) ini.
Menatap Literasi di Dunia Santri
Santri dan literasi sejatinya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sama sekali. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Mengapa? Karena santri secara definisi yang dalam konteks sempit diartikan sebagai orang yang mondok di pesantren, yang mana di dunia pesantren adalah dunia dengan atmosfir literasi yang sangat baik, kekayaan lektur dan intelektualisme muncul subur sejak dahulu. Santri di pesantren adalah sebagai seorang pelajar—yang mendalami ilmu Agama—yang pastinya dilalui dengan membaca, menghafal, berdiskusi, mengkaji, menganalisis, menulis, dan lain halnya yang merupakan bagian dari ranah literasi.
Literasi merupakan pondasi dasar peradaban Islam, karena dengan cakap dalam mengolah teknologi informasi akan sangat berpengaruh pada peradaban yang terjadi. Maka santri sebagai salah satu tonggak kekuatan Islam jelas sangat dibutuhkan perannya dalam menciptakan peradaban Islam dan dunia yang lebih cerah. Dan dengan aktif dalam dunia literasi, santri telah menempuh cara ampuh untuk menuju peradaban yang diinginkan tersebut.
Seperti yang kita ketahui, bahwa dahulu para cendekiawan muslim klasik sudah banyak melahirkan literatur-literatur tentang berbagai masalah kehidupan: seperti keagamaan, ekonomi, politik, dan lain sebagainya bahkan hingga terkait teknologi kehidupan. Mereka begitu aktif dalam memerhatikan berbagai problematika kehidupan, dari mulai keagamaan sampai problematika sosio-kultural, mereka tidak akan berhenti mengkaji sampai titik solusi dari problematika tersebut ditemukan.
Salah satu dari mereka—para cendikiawan muslim—ialah Ibnu Jarir At-Thobari dan Imam Al-Ghozali yang telah tumpah keringat banyak dalam mencurahkan perhatiannya terhadap dunia literasi keislaman. Banyak sekali karya dari mereka yang telah menuai sejarah hebat sampai saat ini, dan karya-karya mereka tersebut sudah menjadi layaknya buku panduan hidup setelah Al-Quran dan Sunnah.
Literasi bagi mereka—para cendekiawan muslim klasik, sudah layaknya makanan pokok (kebutuhan primer) yang wajib ada setiap harinya; jika tidak ada maka akan menyebabkan tidak adanya gairah dan tenaga. Bahkan dalam salah satu maqolah-nya, Imam Al-Ghozali berkata, “Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!”. Kalimat tersebut menunjukan beliau beranggapan bahwa menulis itu sangatlah penting, bahkan manusia itu bukan apa-apa jika tidak menulis; tidak punya karya. Pendapat Imam Al-Ghozali ini senada pula dengan statement Zainal Arifin Thoha yang sempat booming beberapa tahun lalu, ia menyatakan, “Aku Menulis Maka Aku Ada”. Kedua kalimat yang keluar dari dua cendekiawan beda masa tersebut memang terbukti dalam realita yang ada, karena dengan menulis kita akan meninggalkan sebuah jejak yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Ketika jasad-jasad kita sudah tiada namun tulisan-tulisan kita dapat dikenang sepanjang masa.
Literasi adalah Anak Kandung Keislaman
Literasi dan keislaman sudah layaknya sepasang kekasih yang saling melengkapi dalam berbagai aspek, keduanya sudah bersandingan di berbagai ranah kehidupan. Secara historis literasi bisa disebut merupakan anak emas intelektualitas keislaman; literacy makes a great history, literasi menjadi bukti konkret kejayaan Islam sejak terdahulu. Seperti yang kita ketahui bahwa Islam pernah sangat berjaya dalam peradaban intelektualitasnya, khususnya pada zaman Dinasti Abbasyiah. Semua itu tidak lepas dari peran para ulama yang memang sangat loyal dan serius dalam melahirlan literatur-literatur keislaman dan lainnya. Lebih dekat lagi, demikian pula Islam sendiri merupakan satu-satunya Agama yang secara ekspilisit menegaskan tentang budaya literasi. Hal tersebut tertera dalam wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni ayat pertama surat Al-Alaq, bahwa perintah membaca adalah suatu hal yang penting untuk dinikmati dan dihayati.
Oleh karena itu, pesantren sebagai tonggak peradaban Islam, sudah barangtentu harus menjadi garda terdepan yang akan membuka pintu kejayaan Islam terbuka kembali. Begitupula santri yang berada di dalamnya, tentu harus senantiasa memiliki semangat para ulama terdahulu yang sudah berkorban segalanya demi kemajuan intelektualitas Islam melalui jalan literasi tersebut. Budaya literasi pesantren yang sudah muncul dan tumbuh dengan sendirinya harus semakin dikembangkan dan ditanamkan dalam-dalam pada jiwa setiap santri; eksistensi santri pada literasi jangan sampai lekang dan kering.
Sosok santri yang literat—yang melek literasi—inilah yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia pada saat ini. Karena selain sebagai garda terdepan pembuka pintu kejayaan Islam santri juga menjadi benteng pertahanan terakhir persatuan dan kesatuan NKRI dari ancaman berbagai faham yang berbahaya bagi kedaulatan, seperti faham radikalisme (fundamentalis) dan intoleran yang kini tengah mewabah. Ketika persatuan bangsa Indonesia ini semakin kuat maka jalan mulus menuju indonesia hebat semakin terbuka jelas.
Santri-santri yang literat nantinya akan menjadi pembaharu (mujaddid), agen perubahan (agen of change), dan agen perdamaian (agen of peace). Dengan inteligensi dan sikap toleransi yang dimiliknya, para santri dapat menyebarkan ilmu dan kebaikan bagi seluruh elemen masyarakat tanpa membuat perpecahan yang menggaduhkan pada sasaran dakwahnya, karena mereka juga memiliki daya kritis terhadap berbagai permasalahan sosial sekaligus memahami akan kondisi sosial yang ada sehingga mampu menemukan solusi yang tepat dari permasalahan tersebut. Inilah yang menjadi alasan mengapa sosok santri yang literat sangat dibutuhkan demi terwujudnya Indonesia (lebih) hebat.
Santri sebagai agen perubahan dituntut untuk dapat menjadi sosok yang dapat memahami keinginan dan kebutuhan masyarakat khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Dimana dewasa ini, memang telah kita saksikan banyak sekali literatur-literatur klasik dan modern yang berbahasa Arab atau bahasa Inggris kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut memang banyak membantu banyak akademisi yang haus akan ilmu pengetahuan, tetapi tidak untuk masyarakat awam atau non akademisi yang agak susah dan malas dalam membaca buku-buku terjemahan yang berpemahaman cukup sulit seperti itu.
Oleh karena itu, untuk dapat menyentuh seluruh elemen masyarakat santri sebagai agen perubahan harus dapat mengkaji ulang dan membuat terobosan baru berupa program atau tulisan yang sekiranya dapat mudah dipahami dan banyak diminati masyarakat. Dengan kemampuannya, santri harus bisa mengemas pemahaman-pemahan yang cukup sulit dari berbagai fan ilmu dengan kemasan yang unik dan menarik. Sebagai contoh, dakwah bisa dikemas dalam bentuk novel yang memuat pesan-pesan moral yang sedang dibutuhkan masyarakat; religius, nasionalis, toleransi, dan sebagainya. Atau bisa juga dalam format audio visual yang menarik tapi sarat akan pesan moral. Tugas dakwah secara kreatif ini merupakan salah satu cara untuk menyebarkan kebaikan ke seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat milenial yang memang sudah layaknya anak kecil yang selalu ingin dimengerti kebutuhannya. Inilah tugas dari santri dalam mengemban amanah dakwah secara universal.
baca juga Mengadopsi Gaya Radikalisme sebagai Kontranarasi Radikalisme
Terkait dengan hal itu, kita semua telah mengenal banyak sekali para pegiat literasi yang merupakan jebolan dari pesantren. Diantaranya adalah Kang Abik, penulis novel best seller Ayat-ayat Cinta; Gus Usman Ar-Rumy, penulis antologi puisi Kasmaran; Gus Muhidin M. Dahlan, penulis novel fenomenal Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur; dan masih banyak lagi para santri literat yang telah sukses melahirkan berbagai karyanya yang sukses berkontribusi dalam proses dakwah yang kreatif—yang dikemas dengan kisah-kisah dan kalimat-kalimat indah, yang tentunya akan lebih mudah diterima oleh banyak kalangan masyarakat.
Dengan demikian, jelas bahwa peran literasi dalam pembangunan negeri ini sangatlah berarti, dan santri sebagai sosok yang menjadi garda terdepan untuk mempertahankan keutuhan NKRI akan sangat dibutuhkan kontribusinya. Dengan menjadi santri yang literat, yang melek literasi maka tugas santri sebagai agen perubahan akan lebih mudah terealisasikan.
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan indah..